LINTASBANTEN.COM – Tren menjamurnya kedai kopi atau coffee shop di kota-kota besar Indonesia, termasuk Kota Cilegon, telah membuka mata generasi muda akan potensi bisnis yang menjanjikan.
Tidak lagi sekadar menjadi penikmat, kini banyak milenial dan Gen Z yang berambisi menguasai teknik meracik kopi secara profesional untuk membuka usaha mandiri. Fenomena ini terlihat jelas dari tingginya antusiasme masyarakat dalam mengikuti program peningkatan keterampilan yang difasilitasi oleh pemerintah daerah.
Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Kota Cilegon melalui Balai Latihan Kerja (BLK) merespons tren ini dengan menggelar pelatihan barista intensif. Langkah ini bertujuan untuk membekali warga dengan skill mumpuni agar mampu bersaing di industri Food and Beverage (F&B) yang kian kompetitif.
Program ini bukan sekadar kursus singkat, melainkan jembatan bagi para calon “coffee-preneur” untuk memahami ekosistem bisnis kopi dari hulu ke hilir.
Salah satu peserta yang mencuri perhatian adalah Karina (24), seorang warga dari Kompleks Taman Raya Cilegon. Sebagai representasi anak muda kreatif, Karina tidak ingin hanya menjadi penonton dalam industri kopi yang tengah naik daun. Meskipun sudah menggeluti dunia kopi selama tiga tahun secara otodidak, ia merasa perlu mendapatkan validasi dan ilmu tambahan dari instruktur profesional.
Motivasi utama Karina terjun ke pelatihan ini adalah kecintaannya yang mendalam terhadap seni meracik minuman hitam tersebut. Bagi perempuan lulusan D1 ini, kopi bukan sekadar minuman, melainkan media kreativitas.
“Karena suka meracik, karena suka kopi,” ujarnya di sela-sela pelatihan di Disnaker Cilegon, Selasa (9/6/2026).
Karina menyadari bahwa untuk membangun kedai kopi yang berkelanjutan, diperlukan lebih dari sekadar modal finansial. Keterampilan teknis dalam menggunakan mesin espresso, menentukan profil sangrai (roasting), hingga teknik latte art menjadi fondasi penting.
“Hanya memang suka masak dan bikin-bikin minuman kopi. Makanya ikut pelatihan ini,” ucap Karina.
Ia juga menambahkan bahwa proses belajar tidak sesulit yang dibayangkan karena adanya bimbingan dari tenaga ahli. Fokusnya saat ini adalah mematangkan rencana bisnis agar kedai kopi miliknya nanti memiliki standar kualitas yang tinggi. “Karena ingin kedepannya buka usaha,” terangnya.
Tingginya minat masyarakat Cilegon terhadap profesi barista terlihat dari membludaknya jumlah pendaftar. Kepala Disnaker Kota Cilegon, Sri Widayati, mengungkapkan bahwa kuota yang tersedia sangat terbatas dibandingkan dengan total peminat yang masuk ke meja panitia. Hal ini menunjukkan bahwa profesi barista kini dipandang sebagai profesi yang prestisius dan memiliki nilai ekonomi tinggi di mata masyarakat.
Tercatat ada lebih dari 50 orang yang mendaftar, namun setelah melalui proses seleksi administrasi yang ketat, hanya 16 peserta yang dinyatakan lolos untuk mengikuti pelatihan.
Menariknya, program ini juga mengedepankan aspek inklusivitas dengan memberikan kesempatan bagi penyandang disabilitas untuk turut serta mengasah kemampuan.
Sri Widayati menjelaskan bahwa materi pelatihan dirancang secara komprehensif. Pada hari pelaksanaan praktik, para peserta langsung dihadapkan pada simulasi nyata di balik meja bar. Mereka belajar bagaimana meracik bahan, menyajikan minuman dengan estetika yang baik, hingga cara melayani tamu dengan standar pelayanan prima.
“Tujuannya supaya adik-adik setelah pelatihan ini, mendapat pencerahan, bagaimana di kemudian hari membuat usaha, perizianan apa yang dibutuhkan, mereka mendapatkangambarannya,” ucap Sri.
Visi besar dari pelatihan barista ini bukan hanya untuk memenuhi kebutuhan tenaga kerja di kafe-kafe yang sudah ada, melainkan untuk menciptakan ekosistem wirausaha baru di Kota Cilegon. Disnaker berharap para lulusan pelatihan ini memiliki mentalitas pengusaha yang mampu membuka lapangan pekerjaan bagi orang lain.
Dengan sertifikat kompetensi yang nantinya didapatkan, para peserta diharapkan memiliki kepercayaan diri lebih untuk mengimplementasikan ilmunya.
Penguasaan aspek legalitas atau perizinan usaha yang turut diajarkan dalam pelatihan menjadi modal penting agar UMKM baru yang muncul nantinya memiliki payung hukum yang jelas. “Kami berharap adik-adik, bukan mencari pekerjaan tetapi mereka menciptakan lapangan kerja,” harap Sri Widayati. (luq)













