LINTASBANTEN.C0M – Persoalan sampah di wilayah perkotaan seringkali berakhir menjadi polemik menahun yang sulit diurai. Namun, Pemerintah Kota (Pemkot) Cilegon, memilih pendekatan yang berbeda dan jauh lebih fundamental. Bukan sekadar mengandalkan pembuangan akhir, Pemkot Cilegon kini tengah gencar menyasar sekolah-sekolah untuk menanamkan nilai ekonomi sirkular melalui program inovatif bernama KOLASE (Kolaborasi Sekolah Ekonomi Sirkular).
Targetnya pun tidak main-main. Pemkot Cilegon memproyeksikan sebanyak 100 sekolah dasar (SD) dan menengah (SMP) akan terlibat aktif dalam program ini. Langkah ini diambil guna memastikan bahwa kesadaran akan kelestarian lingkungan dan keterampilan mengelola limbah menjadi bagian dari karakter generasi muda Cilegon sejak dini.
Wali Kota Cilegon, Robinsar, menekankan bahwa kunci keberhasilan penanganan sampah terletak pada perubahan pola pikir masyarakat, terutama dimulai dari hulu atau sumber sampah itu sendiri. Saat melakukan peninjauan langsung di SDN Sumampir, ia menegaskan bahwa ketergantungan pada Tempat Pembuangan Sampah Akhir (TPSA) harus mulai dikurangi secara sistematis.
“Pengelolaan sampah itu tidak bisa serta-merta begitu saja hilang. Jadi ini dalam rangkameningkatkan kesadaran dan memberikan pemahaman kepada anak-anak kita agartertanam sejak dini,” kata Robinsar di hadapan para pengajar dan siswa.
Meskipun program ini berhasil mengumpulkan angka-angka yang cukup fantastis secara materi, Pemkot Cilegon memandang aspek edukasi jauh lebih krusial dibandingkan volume sampah yang berhasil dikumpulkan. Transformasi dari perilaku membuang menjadi perilaku memilah adalah inti dari gerakan KOLASE.
Menurut Robinsar, ekspansi program dari yang awalnya hanya menyasar lima sekolah menjadi 100 sekolah pada tahun ini merupakan bentuk keseriusan pemerintah dalam membentuk ekosistem pendidikan yang peduli lingkungan. Fokusnya adalah mengubah kebiasaan siswa agar lebih bertanggung jawab terhadap konsumsi mereka sehari-hari.
“Poin utamanya pendidikan pengelolaan sampah. Meningkatkan kesadaran agar tidak membuang sampah sembarangan, serta tahu mana sampah yang harus dibuang dan manayang harus dipilah,” tegas Robinsar.
Implementasi program KOLASE di lapangan terbukti membuahkan hasil yang menggembirakan. Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Cilegon, Sabri Mahyudin, memaparkan data yang menunjukkan betapa besarnya potensi ekonomi dan lingkungan jika sampah dikelola dengan manajemen yang tepat di sekolah-sekolah.
Hingga saat ini, keterlibatan ribuan siswa telah mampu menekan beban sampah yang masuk ke TPA secara signifikan. Partisipasi aktif ini sekaligus membuktikan bahwa anak-anak memiliki kepedulian yang tinggi jika diberikan sarana dan edukasi yang tepat.
“Selama program ini berlangsung, sampah yang sudah tereduksi mencapai sekitar 35 ton.Tabungan (bank sampah) yang terkumpul sekitar Rp58 juta, dan murid yang terlibat mencapai 38 ribu anak,” ungkap Sabri.
Angka Rp58 juta tersebut bukanlah sekadar angka statistik, melainkan representasi dari tabungan nyata para siswa yang dikelola melalui mekanisme bank sampah. Sabri berharap, kebiasaan baik ini tidak hanya berhenti di lingkungan sekolah, tetapi juga dibawa pulang ke rumah masing-masing. Dengan begitu, anak-anak dapat menjadi agen perubahan yang menularkan budaya pilah sampah kepada orang tua dan keluarga mereka.
Program ini juga diproyeksikan menjadi batu loncatan bagi sekolah-sekolah di Cilegon untuk meraih predikat Adiwiyata atau sekolah berwawasan lingkungan. Dalam praktiknya, Pemkot tidak bergerak sendiri melainkan menggandeng sektor swasta melalui program CSR.
“Melaluikolaborasi ini, kita tidak hanya mengumpulkan sampah, tetapi juga sekaligus mengedukasi sekolah-sekolah di Kota Cilegon untuk bersiap mengikuti programsekolah berwawasan lingkungan atau Adiwiyata,” pungkas Sabri.
Di tingkat sekolah, para pendidik melihat KOLASE sebagai instrumen praktis untuk mengajarkan literasi finansial sekaligus cinta lingkungan. Kepala SDN Sumampir, Junaesih, menceritakan bagaimana perspektif siswanya berubah total setelah mengikuti program ini. Sampah plastik atau kertas yang biasanya dianggap tidak berharga, kini dipandang sebagai sumber daya.
“Melalui kegiatan kolase ini, anak-anak diedukasi bahwa sampah tidak harus selalu dibuang. Ternyata sampah bisa dimanfaatkan kembali dan menghasilkan nilaiekonomi,” kata Junaesih.
Siswa di SDN Sumampir dibiasakan untuk membawa sampah dari rumah, seperti plastik dan kertas, untuk kemudian dikumpulkan dan ditimbang di sekolah secara berkala. Targetnya, setiap siswa dapat berkontribusi sekitar satu kilogram sampah dalam periode tertentu. Hasil timbangan ini kemudian dikonversi menjadi nilai rupiah yang dicatat dalam rekening kelas.
Langkah ini dianggap sangat relevan di tengah isu krisis sampah plastik global. Dengan cara ini, siswa diajak untuk melihat langsung manfaat nyata dari kedisiplinan mereka.
Junaesih berharap pola ini akan menciptakan kebiasaan permanen yang akan membentuk masa depan yang lebih hijau.
“Harapannya anak-anak menjadi lebih bertanggung jawab terhadap sampah, tidak membuang sembarangan, serta memahami bahwa sampah masih bisa dimanfaatkan kembali,” ujarnya.
Program KOLASE sendiri merupakan inisiatif yang telah berjalan sejak 2023. Kesuksesan gerakan ini merupakan hasil sinergi lintas sektor, mulai dari dukungan CSR PT Chandra Asri Pacific (CAP) bersama Barito Pacific Group melalui Yayasan Bakti Barito, hingga keterlibatan aktif perbankan dan bank sampah lokal yang berkolaborasi dengan DLH Kota Cilegon. Dengan dukungan yang luas, impian Cilegon untuk menciptakan 100 sekolah model ekonomi sirkular kini berada di depan mata. (luq)







