Ambisi Besar PAN Cilegon di Pemilu 2029: Strategi ‘Dewan Viral’ hingga Evaluasi Lewat Roasting Komedian

LINTASBANTEN.COM – Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Partai Amanat Nasional (PAN) Kota Cilegon secara terbuka menyatakan kesiapannya untuk merajai panggung politik lokal pada Pemilu 2029 mendatang.

Tidak tanggung-tanggung, partai berlogo matahari putih ini bersinggungan dengan posisi partai pemenang nomor satu di Kota Baja.

Target ambisius ini muncul setelah adanya instruksi khusus dari DPP PAN yang melihat potensi besar di wilayah tersebut.

Ketua DPD PAN Kota Cilegon, Dede Rohana Putra, menegaskan bahwa momentum kenaikan suara pada Pemilu 2024 lalu menjadi landasan kuat bagi partai untuk melangkah lebih jauh.

Pada pesta demokrasi sebelumnya, PAN Cilegon berhasil menembus jajaran tiga besar peraih suara terbanyak, sebuah prestasi yang mendapat apresiasi tinggi dari pengurus pusat.

Menandai dimulainya mesin politik menuju tahun 2029, PAN Cilegon menggelar kegiatan konsolidasi internal yang dibalut dengan perayaan Idul Adha di Aula DRP pada Kamis (28/5/2026).

Langkah ini dipandang sebagai cara efektif untuk tetap menjaga kedekatan pengurus, serta masyarakat luas.

Menurut Dede Rohana, aksi nyata seperti berkurban adalah bagian dari perintah partai untuk terus melakukan konsolidasi di akar rumput.

Dede yang dikenal luas sebagai sosok “Dewan Viral” ini menyatakan bahwa posisi tiga besar saat ini hanyalah batu loncatan.

Ambisi PAN Cilegon kini jauh lebih besar, yakni menggeser dominasi partai-partai besar lainnya untuk duduk di kursi pertama.

“Kalau Cilegon alhamdulillah sudah tiga besar, dan sudah diapresiasi DPP dan ini menjadi bagian dari melaksanakan perintah dari DPP untuk terus konsolidasi. Dalam rangka bukan hanya tiga besar, tetapi targetnya pemenang nomor satu,” ujar Dede Rohana Putra dengan nada optimis.

Ia meyakini bahwa besarnya skala kegiatan kurban yang dilakukan oleh PAN Cilegon merupakan sinyal positif dan parameter kekuatan infrastruktur partai saat ini dibandingkan dengan daerah lain di Banten.

“Mudah-mudah ini bagian dari tanda-tanda, bagian dari parameter, bagaimana PAN Cilegon satu-satunya DPD se-Banten, mungkin di Kota Cilegon sendiri mengadakan kurban sebesar ini PAN Cilegon,” terang Dede.

Pernyataan tersebut menunjukkan kepercayaan diri PAN Cilegon dalam menggalang kekuatan massa. Dukungan dari pengurus dan relawan diharapkan terus solid hingga tahun politik mendatang.

“Mudah-mudahan bagian dari parameter kita untuk menjadi pemenang di Kota Cilegon,” sambungnya.

Salah satu kunci sukses yang diperhatikan PAN Cilegon adalah kerapihan administrasi dan basis data relawan.

Kecepatan dalam pendataan ini menjadi salah satu variabel yang membuat DPP PAN memberikan perhatian khusus pada perkembangan politik di Cilegon.

Dalam konsolidasi tersebut, para anggota dewan dari PAN kembali diingatkan untuk segera merampungkan pendataan relawan mereka di setiap wilayah.

Dede mengklaim bahwa sistem pendataan relawan PAN Cilegon adalah yang terbaik di tingkat provinsi. Prestasi ini dianggap sebagai bukti bahwa mesin partai bekerja secara sistematis, bukan sekedar musiman.

“Kita sudah diapresiasi di cek sama DPP, kita nomor pertama se-Banten. Bahkan se-Indonesia pun, kita bagian dari yang mengumpulkan pendataan relawan yang dibutuhkan oleh DPP,” ucap Dede seraya menjelaskan target perampungan data tersebut pada Juni mendatang.

Persiapan data ini menjadi krusial dalam menghadapi kontestasi politik modern yang berbasis pada data mikro dan pemetaan pemilih yang akurat. Dengan basis relawan yang terdata dengan baik, PAN Cilegon merasa memiliki modal yang kuat untuk pengamanan suara hingga ke tingkat RT/RW.

Ada hal menarik dan tidak biasa dalam agenda konsolidasi PAN Cilegon kali ini. Alih-alih hanya berisi pidato politik yang kaku, partai ini justru menghadirkan sejumlah komedian untuk memberikan hiburan sekaligus kritik tajam.

Para komedian diberikan panggung untuk melakukan “roasting” terhadap para anggota dewan dari Fraksi PAN.

Strategi ini terbilang berani dan segar, terutama untuk menarik minat pemilih muda (milenial dan Gen Z) yang cenderung menyukai transparansi dan gaya komunikasi yang tidak terlalu formal.

Roasting tersebut digunakan sebagai sarana evaluasi diri bagi para wakil rakyat agar tetap membumi dan mendengarkan aspirasi masyarakat.

Bagi Dede Rohana, kritik yang dikemas dalam bentuk komedi stand-up adalah masukan berharga bagi internal partai.

Hal ini menunjukkan kedewasaan politik dalam menerima opini publik, padahal disampaikan dengan cara yang menggelitik dan terkadang menyakitkan.

“Tetapi saya kira subtansinya, ini bagian dari evaluasi diri. Bisa memperbaiki diri, apa yang disampaikan tadi dari stand up comedy, di-rosting. Memang kita sedikit dikuliti, itu bagian dari masukan untuk evaluasi diri,” tandasnya. (luq)