LINTASBANTEN.COM – Momentum hari jadi ke-27 Kota Cilegon dimanfaatkan Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) sebagai ruang refleksi kritis terhadap arah pembangunan kota industri yang dikenal sebagai “Kota Baja”.
Ketua IMM Cilegon, Ade Hikmatullah, menegaskan bahwa usia 27 tahun merupakan fase kematangan yang seharusnya selaras dengan peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) dan pemerataan kesejahteraan masyarakat.
“Kami mengapresiasi capaian pemerintah daerah dalam pembangunan infrastruktur. Namun, kemajuan industri tidak boleh meminggirkan warga lokal. Pendidikan dan akses kerja harus jadi prioritas agar pemuda Cilegon tidak hanya menjadi penonton di rumah sendiri,” ujarnya, Sabtu (4/4/2026).
IMM Cilegon mencatat tiga isu strategis yang perlu menjadi perhatian serius pemerintah daerah.
Pertama, transformasi pendidikan dan SDM. IMM mendorong penguatan literasi digital serta keterampilan teknis bagi pelajar dan mahasiswa agar mampu bersaing di era industri 4.0.
Kedua, keadilan ekologis. Di tengah tingginya aktivitas industri, IMM menuntut konsistensi pengawasan AMDAL serta penanganan polusi demi menjaga kesehatan masyarakat dalam jangka panjang.
Ketiga, penguatan ekonomi umat. Pemerintah diminta lebih serius membina sektor UMKM dan ekonomi kreatif sebagai penopang ekonomi daerah, agar tidak bergantung pada industri berat semata.
IMM menegaskan komitmennya sebagai mitra kritis pemerintah dalam mengawal kebijakan publik. “Kami akan terus bergerak dengan semangat Fastabiqul Khairat,” kata Ade.
Sementara itu, Ketua Bidang Kaderisasi PC IMM Kota Cilegon, Muhamad Rijki Romadhan, turut menyampaikan harapan di usia ke-27 Kota Cilegon.
“Semoga Cilegon terus tumbuh menjadi kota yang lebih baik, tidak hanya dari sisi pembangunan fisik, tetapi juga pelayanan publik dan kesejahteraan masyarakat. Potensi besar sebagai kota industri harus dimaksimalkan secara bijak, termasuk untuk pendidikan, sosial, dan lingkungan,” ujarnya.
Ia juga menaruh harapan pada kepemimpinan daerah saat ini, termasuk Robinsar, agar mampu menjalankan pemerintahan yang amanah, transparan, dan berpihak pada rakyat.
“Dengan kepemimpinan yang kuat dan peduli, kami optimistis Cilegon bisa menjadi kota yang inklusif, adil, dan berkelanjutan,” tandasnya. (red)







