LINTASBANTEN.COM .- Dugaan keracunan terhadap 49 santri Pondok Pesantren Al-Inayah pada Kamis (16/4/2026) lalu, dapur program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang menjadi pemasok makanan diketahui belum mengantongi Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS). Dapur tersebut kini ditutup sementara sambil menunggu hasil uji laboratorium dari pihak berwenang.
Peristiwa tersebut diduga berkaitan dengan makanan dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) atau dapur program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang berlokasi di Taman Cilegon Indah, Kecamatan Jombang, Kota Cilegon.
Diketahui, SPPG yang berada di bawah naungan Yayasan Nurani Dhuafa Indonesia, dan diketahui belum mengantongi Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS).
Saat ini, SPPG yang memfasilitasi sekitar 11 sekolah dengan total kurang lebih 2.900 siswa itu, operasional dapur MBG telah ditutup sementara oleh pihak berwenang.
Hal itu disampaiakan oleh Koordinator Wilayah Kota Cilegon dari Badan Gizi Nasional (BGN), Lukiah. Pada kesempatan itu, ia juga mengakui bahwa proses penerbitan SLHS masih dalam tahap rekomendasi dan menunggu penerbitan resmi dari Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Cilegon.
“SLHS sedang direkomendasikan. Tinggal menunggu surat dari Dinkes. IKL dan IPAL sudah lolos, sekarang tinggal proses administrasinya,” katanya kepada awak media saat ditemui di Rumah Dinas Wali Kota Cilegon, Senin (20/4/2026).
Pihaknya hingga kini masih menunggu hasil uji laboratorium untuk memastikan penyebab pasti kejadian tersebut. Yakni berkisar tiga sampai lima hari.
Selama proses tersebut, operasional SPPG dihentikan sementara, termasuk distribusi MBG ke sekolah-sekolah yang menjadi penerima manfaat.
“Untuk sementara, SPPG tidak beroperasi dulu. Sekolah juga sementara tidak menerima MBG. Kita menunggu hasil uji lab terlebih dahulu sebelum mengambil langkah lebih lanjut,” ujarnya.
Lukiah menjelaskan, sebelum makanan didistribusikan, pihaknya telah melakukan uji organoleptik. Namun demikian, hal tersebut belum dapat menjadi dasar untuk menyimpulkan penyebab kejadian.
“Kita belum bisa menyimpulkan penyebabnya karena masih menunggu hasil uji laboratorium,” tuturnya.
Pasca diduga puluhan siswa keracunan akibat MBG. Penutupan sementara operasional kemudian dilakukan sehari setelah kejadian.
“Setelah kejadian hari Kamis, hari Jumat kita langsung melakukan penutupan sementara operasional,” ujarnya.
Terkait penyebab insiden, Lukiah menyatakan belum dapat dipastikan, termasuk kemungkinan adanya kesalahan manusia.
Sementara itu, untuk diketahui di Kota Cilegon, tercatat terdapat 45 SPPG yang beroperasi. Namun, hanya 9 yang telah mengantongi izin, sementara tujuh lainnya masih dalam tahap rekomendasi Dinkes. (luq)






