Disnaker Cilegon Fasilitasi Kerja ke Luar Negeri

CILEGON, LINTASBANTEN.COM – Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Kota Cilegon mensosialisasikan peluang kerja ke luar negeri di Kecamatan Cibeber belum lama ini. Kegiatan ini juga sebagai upaya Disnaker Cilegon untuk meningkatkan skill masyarakat Cilegon agar bisa bekerja di luar negeri.

Kepala Bidang (Kabid) Perencanaan, Pelatihan, Produktivitas, Penempatan Tenaga Kerja (Kabid Penta) pada Disnaker Kota Cilegon Hidayatullah mengatakan sosialisasi ini merupakan tindak lanjut dari MOU antara Walikota Cilegon Helldy Agustian dengan Badan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (BP2MI).

Menurutnya, peluang penempatan di luar negeri cukup banyak, dalam satu tahun BP2MI punya kuota 16 ribu di seluruh Indonesia dan itu diambil oleh daerah-daerah mayoritas di luar Banten.

“Di Banten juga ada tapi pak wali (Helldy Agustian) ingin anak-anak Cilegon ini disamping juga dibuka kesempatan di dalam negeri juga ingin keluar negeri karena peluangnya ada, formal dan aman,” kata Dayat sapaan akrabnya saat dikonfirmasi, Minggu (11/8/2024).

Karena kata dia, disamping akan menjadi pahlawan devisa dan juga pejuang bagi keluarganya. Untuk itu, pihaknya saat ini fokus melakukan pelatihan khusus dan kursus bahasa negara tujuan.

“Kita sudah siapkan, memang ini jangka panjang.
Karena pendidikan itu butuh waktu untuk mahir bahasa negara tujuan dan pak wali (Helldy Agustian) sangat luar biasa kepada disnaker perintahnya agar pelatihan ini segera mungkin dilaksanakan agar meningkatkan kemampuan kapasitas SDM masyarakat Cilegon terkait bahasa negara tujuan,” tuturnya.

Untuk peluang kerja ke luar negeri, kata Dayat ada ke berbagai negara seperti ke Jepang, Korea dan Jerman. Pihaknya juga menggandeng sejumlah Lembaga Pelatihan Kerja (LPK) yang sudah profesional.

“Kita keluar negeri juga negara-negara yang baguslah yang upahnya juga bagus. Upahnya ini minimal dari Rp15 juta sampai Rp35 juta bahkan Rp40 juta. Tergantung juga skill penempatan disana,” terangnya.

Oleh karena itu, agar masyarakat Cilegon tahu dengan program ini, maka pihaknya mensosialisasi dan melaksanakan pelatihan bahwa ada peluang kerja keluar negeri yang aman.

“Mungkin dulu bicara TKI masih dianggap tabuh dan mengerikan adanya kekerasan, adanya pelecehan, adanya ketidaknyamanan tapi dengan nomenklatur baru dengan peraturan yang baru PMI (Pekerja Migran Indonesia) dan penempatan yang resmi ini tidak ada lagi istilah itu,” tuturnya.

“Sosialisasi ini agar masyarakat tahu dan mengikuti program ini. Dan kenapa kita libatkan RT RW, tokoh masyarakat, tokoh agama, kita ingin ada edukasi dari orang tua kepada anak-anaknya. Karena selama ini, anaknya mau, orang tuanya tidak mengizinkan. Tapi ternyata setelah orang tuanya dihadirkan ternyata mereka mengatakan luar biasa aman,” paparnya.

Pihaknya juga berharap agar semua stakeholder turut andil dalam mensukseskan program ini dan mempersiapkan SDM berkualitas ke luar negeri. (boy/red)

Tinggalkan Balasan