Awas Lubang Maut! Pengguna Tol Tangerang-Merak Protes Jalan Rusak Jelang Arus Mudik Lebaran 2026

CILEGON, LINTASBANTEN.COM – Kondisi infrastruktur di salah satu urat nadi utama penghubung Pulau Jawa dan Sumatera kini tengah menjadi sorotan tajam.

Menjelang momentum besar arus Mudik Lebaran 2026, para pengguna jalan mulai mengeluhkan kondisi fisik aspal di sejumlah ruas Jalan Tol Tangerang – Merak yang mengalami kerusakan cukup parah.

Lubang-lubang yang menganga pada badan jalan dinilai sangat membahayakan keselamatan jiwa, terutama bagi pengendara yang melintas dengan kecepatan tinggi.

Berdasarkan pantauan langsung di lokasi pada Selasa (10/3/2026), kerusakan aspal terlihat cukup masif.

Sejumlah titik di Jalan Tol Tangerang-Merak nampaknya tidak lagi rata dan dipenuhi lubang yang tersebar di beberapa jalur utama.

Kondisi ini terpantau mulai dari gerbang Tol Merak hingga kawasan Kragilan yang mengarah ke Tol Cikupa.

Sebaliknya, kondisi jalur dari arah Cikupa menuju Merak terpantau relatif lebih baik dan mulus.

Munculnya titik-titik kerusakan ini menimbulkan kekhawatiran besar, mengingat ruas tol ini merupakan akses vital bagi jutaan pemudik yang akan menyeberang menuju Pelabuhan Merak.

Kehadiran lubang di jalan tol bukan hanya masalah kenyamanan, melainkan taruhan nyawa bagi pengguna jalan yang membayar tarif untuk mendapatkan standar fasilitas keselamatan.

Salah satu pengguna jalan tol, Udin, menceritakan pengalaman pahitnya saat melintasi jalur dari arah Merak menuju Kragilan.

Menurut pengakuannya, ia tidak lagi bisa menghitung berapa banyak lubang yang harus ia hindari selama perjalanan.

Dampak dari jalan yang tidak rata tersebut langsung dirasakan pada komponen kaki-kaki kendaraannya.

“Saya nggak hitung, tapi banyak. Keras mobil kalau kena jalan lubang, bunyi duk duk,” ujar Udin, Selasa (10/3/2026).

Keluhan Udin ini mencerminkan keresahan banyak pengemudi kendaraan pribadi yang khawatir akan kerusakan teknis pada mobil mereka.

Tak hanya kendaraan kecil, kendaraan besar seperti truk pun ikut terdampak.

Dalam perjalanannya, Udin menyaksikan beberapa armada logistik harus menepi di bahu jalan akibat mengalami kendala teknis yang diduga kuat dipicu oleh hantaman lubang jalan.

“Saya lihat di Serang Timur, ke Kragilan ada truk yang menepi lagi ganti ban. Saya mengira itu karena jalan rusak,” ucapnya.

Fenomena pecahnya larangan di jalan tol adalah ancaman serius.

Jika terjadi pada kecepatan tinggi, hal ini bisa memicu kecelakaan fatal yang melibatkan kendaraan lain di sekitarnya.

Oleh karena itu, kondisi jalan yang prima menjadi syarat mutlak yang tidak bisa ditawar lagi oleh pihak pengelola jalan tol.

Sebagai jalan berbayar, masyarakat menuntut adanya timbal balik berupa kualitas infrastruktur yang mumpuni.

Kenaikan tarif tol yang sering terjadi seharusnya dibarengi dengan pemeliharaan rutin yang sigap, terutama saat memasuki bulan-bulan krusial seperti menjelang musim mudik.

Udin menegaskan bahwa perbaikan harus dilakukan segera sebelum volume kendaraan meningkat drastis.

“Saya nyatakan, seharusnya jalan tol dalam kondisi yang baik karena pengguna selalu membayar jasa tol. Apalagi saat ini akan memasuki arus mudik Lebaran, jalan seharusnya bisa mulus. Karena kalau tidak malah membahayakan pengguna jalan,” paparnya.

Ia juga menambahkan bahwa pengelola jalan tol harus memiliki manajemen risiko dan tim reaksi cepat untuk melakukan penambalan atau pelapisan ulang aspal.

Keamanan publik tidak boleh dikorbankan demi alasan teknis atau birokrasi internal pengelola.

“Kalau arus mudik seharusnya cepat dilakukan perbaikan, jangan sampai nanti malah menimbulkan bahaya bagi pengguna jalan,” tegas Udin.

Desakan ini ditujukan langsung kepada manajemen pengelola jalan tol agar segera turun ke lapangan dan memetakan titik-titik rawan kecelakaan akibat aspal berlubang.

Pengguna jalan berharap uang yang mereka bayarkan di gerbang tol dapat diubah menjadi perjalanan yang aman dan tanpa hambatan fisik.

“Kita kan masuk tol bayar, mau nyaman.Semoga bisa diperhatikan sama pengelola,” ucapnya.

Hal senada juga disampaikan oleh Mubarok, pengguna jalan tol lainnya yang kerap melintasi jalur Tangerang-Merak.

Ia memandang bahwa membiarkan jalan tol dalam kondisi rusak menjelang arus mudik adalah sebuah kelalaian yang berisiko tinggi.

Baginya, kecepatan perbaikan adalah kunci untuk mencegah jatuhnya korban jiwa di jalan raya.

“Ini sudah mau mudik tapi masih ada yang rusak. Khawatir bahaya ke pengguna jalan kalau tidak diperbaiki,” terangnya.

Kekhawatiran Mubarok ini sangat beralasan. Pada masa mudik, kepadatan kendaraan akan meningkat berlipat ganda, di mana jarak antar kendaraan menjadi lebih rapat.

“Dalam kondisi aspal yang berlubang, pengereman mendadak atau manuver menghindar secara tiba-tiba dapat memicu tabrakan beruntun yang sangat mematikan, ” tandasnya. (luq)