CILEGON,LINTASBANTEN.COM- Pemerintah Kota (Pemkot) Cilegon menegaskan komitmennya dalam memaksimalkan potensi lahan pertanian yang tersedia di tengah kemungkinan alih fungsi lahan dan dominasi industri.
Walikota Cilegon, Robinsar, menyatakan bahwa pihaknya tengah menyiapkan sejumlah langkah konkret agar produksi pertanian tetap terjaga.
“Kota Cilegon kan kota kecil dibanding kota lain, kota industri. Jadi dari kemarin lahan kita 1100 hektare kami akan memaksimalkan lahan ini,” katanya usai kegiatan Gerakan tanam padi di Kota Cilegon Muhammad Mardiono utusan khusus presiden Republik Indonesia bidang ketahanan pangan di lokasi kelompok tani (Poktan) Lebak Buaran, kelurahan Tamanbaru, Kecamatan Citangkil, kota Cilegon, Kamis (8/5).
Ia menargetkan agar mayoritas lahan pertanian tersebut dapat menghasilkan panen hingga tiga kali dalam setahun.
Ia juga menyampaikan bahwa panen raya yang baru dilaksanakan secara daring sebelumnya bersama Presiden Prabowo menjadi momen penting untuk menyerap aspirasi masyarakat, khususnya terkait percepatan proses panen.
“Tapi yang pasti kami juga kemarin kita panen raya via zoom, kami serap aspirasi, banyak masyarakat juga kesulitan untuk percepatan panen, nanti di perubahan kita sediakan alat kombennya (Alat Mesin Pertanian),” ujarnya.
Namun, dari aspirasi itu, Robinsar menyoroti adanya kendala di lapangan, termasuk kerja sama petani dengan tengkulak yang berdampak pada pengaturan harga.
“Tapi memang di lapangan ada beberapa masyarakat atau petani yang sudah kerja sama dengan tengkulak. Mau tidak mau mereka menjual dengan harga dibawah bulog,” tuturnya.
Sebagai solusi jangka panjang, Pemkot akan membantu petani yang kesulitan dalam permodalan melalui kerja sama dengan bank syariah.
“Kedepan petani yang kesulitan dalam permodalan akan kita sambungkan ke BPRS. Supaya bisa dikasih pinjaman lunak,” ucapnya.
Sementara itu, mengenai kebutuhan beras di Cilegon, Robinsar memastikan bahwa stok masih dalam kondisi aman.
“Kalau stok aman cuman memang lahan aja yang menipis, karena memang dari dulu tidak bisa memenuhi karena kita daerah konsumtif,” ungkapnya.
Saat ditanya soal langkah konkret pemerintah, Robinsar menegaskan pentingnya keseimbangan antara pertanian dan investasi.
“Yang pasti tata ruang, tata ruang nanti kita cek lagi, kita pastikan tidak menghambat investasi dan tidak mengurangi lahan pertanian. Nanti kita petakan lahan yang mana yang memang menjadi prioritas pertanian dan prioritas industri. Makanya 1100 kita rawat, maksimalkan juga produksinya,” katanya.
Sementara itu, Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kota Cilegon, M. Ridwan, menyebutkan bahwa produksi panen di bulan Mei ditargetkan mencapai 1,8 hektare.
“Target per bulan kalau bulan Mei 1,8 hektare. Di Cilegon yang banyaknya sawah Cibeber, Jombang, Purwakarta,” ujarnya.
Ia juga mengungkapkan bahwa pihaknya tengah mengupayakan bantuan dari pemerintah pusat, namun pengadaan peralatan pertanian akan dilakukan secara mandiri melalui perubahan anggaran.
“Kita sedang memohon bantuan ke pusat, tapi nanti di perubahan seperti Pak Wali bilang nanti beli sendiri, pengadaan sendiri, traktor, power triser,” ujarnya.
Terkait anggaran, Ridwan menyebutkan masih dalam tahap perhitungan. “Proyeksi anggaran, kita nanti kita lihat hitungannya,” tandasnya. (*/red)







