LINTASBANTEN.COM – Arus informasi digital yang melaju tanpa filter menjadi tantangan besar bagi generasi muda di kota-kota besar, termasuk Cilegon.
Menyadari risiko distrupsi informasi yang kian nyata, Jurnalis Parlemen Cilegon (JPC) mengambil langkah proaktif dengan membekali para pelajar melalui program “Jurnalis Mengajar”.
Kegiatan yang mengusung tema “Gen Z Lawan Hoaks dan Disinformasi” ini menyasar 50 siswa di MA Al I’anah Cilegon, Kamis (11/6/2026).
Berlokasi di Aula MA Al I’anah, Kelurahan Tegal Ratu, Kecamatan Ciwandan, acara ini menjadi momentum krusial bagi siswa untuk memahami peran penting literasi media di tengah kepungan informasi media sosial yang sering kali menyesatkan.
Wakil Wali Kota Cilegon, Fajar Hadi Prabowo, yang hadir langsung membuka kegiatan tersebut, memberikan apresiasi tinggi terhadap inisiatif yang digagas oleh insan pers tersebut.
Menurutnya, sinergi antara jurnalis dan dunia industri merupakan langkah konkret dalam melindungi masa depan generasi penerus dari ancaman berita bohong.
“Saya mengucapkan terima kasih kepada Jurnalis Parlemen Cilegon yang telah mengundang saya hadir dalam kegiatan ini. Terima kasih juga kepada Krakatau Pipe dan Krakatau Baja yang selama ini konsisten mendukung program ini. Semoga agenda ini terus berjalan lancar dan memberikan manfaat bagi masyarakat Cilegon,” ujar Fajar dalam sambutannya.
Keterlibatan jurnalis dalam dunia pendidikan dianggap sebagai bentuk kontribusi nyata untuk membangun nalar kritis pelajar.
Fajar Hadi Prabowo menilai bahwa materi yang diberikan oleh para praktisi media sangat relevan dengan kebutuhan Gen Z saat ini yang hampir seluruh waktunya terhubung dengan internet.
“Kalau perlu nanti dilakukan evaluasi agar kegiatan ini semakin baik. Jika dibutuhkan materi yang lebih spesifik terkait jurnalistik maupun visual, saya dengan senang hati siap membantu. Intinya, Pemerintah Kota Cilegon akan terus mendukung kegiatan-kegiatan yang bermanfaat seperti ini,” katanya.
Risiko bagi mereka yang tidak memiliki bekal literasi cukup sangatlah besar. Kecepatan penyebaran informasi di dunia maya seringkali membuat masyarakat terjebak dalam disinformasi.
Terkait hal ini, Fajar mengingatkan agar para siswa tidak mudah percaya pada informasi yang belum terverifikasi kebenarannya.
“Kalau kita enggak nangkep literasinya, diterima mentah-mentah aja, itu yang bahaya,” tegas Wakil Wali Kota Cilegon tersebut.
Pemerintah Kota Cilegon pun berkomitmen untuk memperluas jangkauan program ini di masa mendatang. Fajar Hadi Prabowo berharap kolaborasi antara pemerintah, pers, dan industri dapat menjangkau lebih banyak sekolah di wilayah Cilegon.
“Saya akan menyiapkan dukungan untuk tahun-tahun berikutnya agar semakin banyak sekolah yang bisa mendapatkan manfaat dari program ini. Jadi, tidak hanya bergantung pada dukungan industri, tetapi juga ada kolaborasi yang lebih kuat dengan pemerintah,” tutup Fajar.
Program Jurnalis Mengajar ini tidak berdiri sendiri. Keberlangsungannya didukung penuh oleh PT Krakatau Steel (KS Group) melalui PT Krakatau Baja Industri (KBI) dan PT Krakatau Pipe Industries (KPI).
Pihak industri menyadari bahwa menjaga kebenaran informasi adalah tanggung jawab bersama demi menjaga stabilitas sosial di masyarakat.
Manager Corsec Krakatau Baja Industri (KBI), Vicky Mohamad Rosyad, menekankan bahwa di era yang destruktif ini, peran media sebagai garda terdepan penyaring kebenaran menjadi sangat vital.
“Ini era distruktif, karenanya kita menggandeng media, media garda terdepan menjaga kebenaran yang harus kita percayai. Kita punya sejarah yang peradaban rusak karena distruktif informasi,” ungkap Vicky.
Ketua Jurnalis Parlemen Cilegon (JPC), Hairul Alwan, menjelaskan bahwa program ini telah menjadi agenda rutin sejak tahun 2021. Tahun 2026 menandai tahun kelima pelaksanaan, di mana MA Al I’anah menjadi sekolah ketujuh yang dikunjungi dalam rangkaian edukasi literasi media tersebut.
“Jurnalis Mengajar ini merupakan program rutin Jurnalis Parlemen Cilegon sejak 2021. Tahun ini menjadi tahun kelima pelaksanaan program dan MA Al I’anah merupakan sekolah ketujuh yang kami kunjungi. Alhamdulillah, semoga kegiatan ini terus berlanjut ke depannya,” jelas Hairul Alwan.
Dalam sesi edukasi, para jurnalis tidak hanya memberikan teori mengenai hoaks, tetapi juga berbagi keterampilan praktis dalam mengolah konten kreatif dan jurnalistik.
Hal ini bertujuan agar para siswa tidak hanya menjadi konsumen informasi, tetapi juga mampu menjadi produsen konten yang bertanggung jawab.
“Kalau kerja jurnalistik itu kita wawancara, ini kita coba beri kontribusi di tanah pendidikan, kita sharing di dunia tulis, foto dan digital. Makanya kita usung lawan hoax,” ucap Hairul Alwan.
Ia menambahkan bahwa kemampuan menganalisis dan menyaring informasi secara kritis adalah kunci utama bagi Gen Z sebagai salah satu pengguna internet terbesar saat ini.
“Kami ingin berbagi tentang jurnalistik tulis, foto dan video. Karena sekarang berada di era digital, kami juga ingin membekali para siswa agar mampu melawan hoaks dan disinformasi. Semoga apa yang kami bagikan dapat bermanfaat dan menjadi bekal bagi generasi muda dalam menyaring informasi secara bijak,” pungkasnya.
Penerimaan positif juga datang dari pihak sekolah. Pengawas Yayasan Al I’anah, Ahmad Sulthon, menilai pengetahuan tentang dunia jurnalistik sangat diperlukan oleh siswa madrasah untuk menyeimbangkan pendidikan agama dengan kecakapan digital.
“Meski fokus di pembangunan agama, tapi jurnalis ini juga sangat bermanfaat untuk menangkal berita-berita tidak benar. Jadi apabila ada berita, kita kroscek dulu, benar atau tidak,” tutur Ahmad Sulthon. (luq)







