CILEGON,LINTASBANTEN.COM– Di tengah pesatnya arus informasi digital dan hiburan yang membanjiri ruang publik, Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Cilegon mengambil langkah strategis yang tidak biasa. Organisasi Islam yang dikenal dengan gerakan pembaharuannya ini kini tengah “tancap gas” mengintensifkan gerakan dakwah pencerahan.
Tidak tanggung-tanggung, frekuensi pengajian yang digelar kini mencapai rata-rata lima kali dalam sepekan di berbagai wilayah Cilegon.
Langkah masif ini bukan tanpa alasan.
Di balik rutinitas keagamaan tersebut, terdapat misi mendesak untuk membentengi nalar masyarakat, khususnya generasi muda produktif, dari gempuran konten-konten yang menjauhkan dari rasionalitas.
Fenomena maraknya tontonan bernuansa mistik yang mendominasi layar kaca hingga gawai pintar menjadi perhatian serius PDM Kota Cilegon.
Mereka menilai, hiburan semacam ini jika dikonsumsi tanpa filter yang kuat, dapat menyuburkan kembali praktik-praktik irasional yang selama ini diperangi oleh Muhammadiyah.
Sekretaris PDM Kota Cilegon, Mohammad Tahyar, menjelaskan secara gamblang bahwa intensitas pengajian ini adalah benteng pertahanan akidah sekaligus strategi ofensif terhadap kemunduran berpikir.
Menurutnya, Muhammadiyah perlu hadir lebih sering di tengah masyarakat untuk memberikan alternatif pemikiran yang mencerahkan.
“Pengajian ini bukan sekadar rutinitas, tetapi bagian dari upaya serius Muhammadiyah Cilegon dalam pemberantasan TBC tahayul, bid’ah, dan khurafat yang semakin marak di masyarakat, termasuk melalui tontonan film horor yang tayang di televisi, platform digital, hingga bioskop di Cilegon,” tegas Tahyar saat memberikan keterangan mengenai program tersebut.
Pernyataan ini menyoroti kekhawatiran mendalam mengenai kualitas sumber daya manusia (SDM) di Kota Baja. Ketika masyarakat, terutama kelompok usia produktif, lebih banyak terpapar narasi mistik ketimbang narasi ilmiah dan religius yang rasional, maka kemampuan berpikir kritis berpotensi tumpul.
Oleh karena itu, kurikulum pengajian yang disusun tidak hanya berkutat pada ritual ibadah mahdhah, tetapi juga menyentuh aspek muamalah duniawiyah yang menuntut kecerdasan intelektual.
Muhammadiyah ingin memastikan bahwa umat Islam di Cilegon memahami agama sebagai landasan untuk kemajuan, bukan kemunduran.
Fokus pembinaan SDM ini juga diarahkan agar warga persyarikatan dan masyarakat umum mampu merespons isu-isu sosial dan kebangsaan dengan bijak.
Di era banjir informasi atau information overload, kemampuan memilah fakta dan bersikap objektif adalah keterampilan krusial.
“Warga Muhammadiyah harus memiliki kesadaran kebangsaan yang kuat, berpikir rasional, dan mampu membaca persoalan lokal maupun nasional secara objektif,” ujarnya menambahkan.
Manifestasi dari sikap objektif dan kritis ini juga akan diterjemahkan PDM Kota Cilegon ke dalam ranah kebijakan publik. Sebagai bagian dari civil society yang berfungsi sebagai penyeimbang, Muhammadiyah Cilegon tidak hanya sibuk di mimbar pengajian, tetapi juga siap turun gelanggang dalam diskursus pembangunan kota.
Dalam waktu dekat, PDM Cilegon mengagendakan sebuah forum dialog publik yang cukup strategis bertajuk “Refleksi Satu Tahun Pemerintahan Robinsar–Fajar”.
Rencana ini menunjukkan posisi tawar Muhammadiyah yang elegan; di satu sisi memperkuat basis spiritual masyarakat, dan di sisi lain tetap kritis mengawal jalannya pemerintahan.
Rencananya, kata dia forum ini akan menghadirkan langsung Walikota Cilegon sebagai pembicara utama, menciptakan ruang transparansi dan akuntabilitas antara pemimpin dan rakyatnya. Dialog ini diharapkan menjadi sarana evaluasi yang konstruktif, bukan sekadar seremonial belaka.
Kendati bersikap kritis, semangat utama yang dibawa Muhammadiyah tetaplah semangat kolaborasi atau ta’awun. Sinergi dengan pemerintah daerah dianggap mutlak diperlukan untuk mengakselerasi pembangunan manusia di Cilegon. PDM menyadari bahwa tantangan perkotaan seperti kesenjangan sosial, pendidikan, dan kesejahteraan tidak bisa diselesaikan sendirian.
“Kami berharap Muhammadiyah dapat terus membantu Pemkot Cilegon dalam upaya meningkatkan taraf hidup masyarakat, terutama di bidang kesejahteraan dan pendidikan, demi melahirkan manusia yang berakhlak, beradab, dan berkemajuan,” tandas Tahyar. (*/red)







