Proyek Raksasa Rp 15 Triliun TPIA di Cilegon Capai Titik Puncak, Siap Hemat Devisa Negara ratusan Juta Dolar

JAKARTA, LINTASBANTEN.COM – Kabar menggembirakan datang dari sektor industri manufaktur dan petrokimia Tanah Air.

PT Chandra Asri Pacific Tbk yang melantai di bursa dengan kode saham TPIA, melalui anak perusahaannya PT Chandra Asri Alkali, terus mengebut pembangunan pabrik Klor Alkali dan Etilen Diklorida (CA-EDC) yang berlokasi di Kota Cilegon, Provinsi Banten.

Proyek bernilai jumbo ini direncanakan mampu memulai pengoperasian komersialnya secara penuh pada kuartal pertama tahun 2027 mendatang.

Kemajuan pembangunan fisik di lapangan menunjukkan grafik yang sangat positif. Pada pembaruan data hari Jumat (20/2), kemajuan konstruksi pabrik telah mencapai angka 50 persen.

Pencapaian ini menandakan bahwa proyek tersebut kini telah resmi memasuki fase puncak konstruksi. Laju pembangunan ini terbilang masif jika dibandingkan dengan laporan sebelumnya, di mana kemajuan konstruksi baru mencapai 33 persen pada bulan September 2025 lalu.

Presiden Direktur sekaligus Kepala Eksekutif Chandra Asri Group, Erwin Ciputra, memberikan pernyataan resmi terkait pencapaian krusial pada hari Jumat (20/2) tersebut.

“Pabrik CA-EDC merupakan salah satu langkah strategi Chandra Asri Group untuk memperkuat fondasi industri kimia domestik yang lebih tangguh dan terintegrasi,” ujarnya, Jumat (20/2/2026).

Dari sisi operasional, pabrik CA-EDC ini dirancang untuk memiliki kapasitas produksi yang sangat besar. Pada fase awalnya saja, fasilitas di Cilegon ini diproduksi mampu memproduksi soda kaustik hingga 827.000 ton per tahun, serta Etilen Diklorida (EDC) sebanyak 500.000 ton setiap tahunnya.

Peningkatan kapasitas produksi dalam negeri untuk bahan kimia dasar ini membawa angin segar bagi perekonomian nasional.

Kehadiran pabrik ini diharapkan dapat memperkuat ketahanan pasokan nasional secara signifikan sekaligus menekan angka ketergantungan impor bahan baku kimia. Secara gambaran konkret, seluruh produksi soda kaustik dari pabrik ini diproyeksikan mampu menggantikan produk impor hingga 827.000 ton per tahun. Substitusi impor ini bernilai sangat fantastis, yakni setara dengan penghematan devisa sekitar USD 293 juta.

Tidak hanya menjamin pasokan dalam negeri, pabrik ini juga memantau pasar global. Seluruh produksi EDC yang mencapai setengah juta ton tersebut akan diarahkan sepenuhnya untuk pasar ekspor. Langkah agresif ini menyimpan potensi besar bagi negara berupa tambahan pendapatan devisa sekitar USD 300 juta per tahun.

Selain dampak ekonomi makro, megaproyek ini juga memberikan efek domino yang nyata bagi masyarakat sekitar, khususnya dari sektor ketenagakerjaan.

Selama masa konstruksi berlangsung, proyek CA-EDC telah sukses menyerap dan mempekerjakan sekitar 3.000 pekerja.

Lebih lanjut, ketika fasilitas ini mulai beroperasi secara penuh pada tahun 2027, pihak perusahaan memproyeksikan akan ada penciptaan tambahan 250 lapangan kerja baru.

Tidak berhenti di situ, operasional pabrik nantinya akan secara aktif melibatkan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) lokal untuk masuk ke dalam rantai pasokan serta berbagai lini dukungan operasional harian.

Mengingat betapa pentingnya bagi kemandirian industri nasional, Pembangkit listrik CA-EDC ini telah secara resmi ditetapkan sebagai Proyek Strategis Nasional (PSN) di bawah pemerintahan Presiden Prabowo.

Secara keseluruhan, total nilai investasi yang digelontorkan untuk merealisasikan proyek kebanggaan ini mencapai Rp 15 triliun.

Kepercayaan terhadap proyek strategis ini juga datang dari lembaga pengelola dana negara. Dua entitas raksasa, yakni Danantara dan Badan Penanaman Modal Indonesia atau Indonesia Investment Authority (INA), telah resmi bergabung menjadi investor.

Keterlibatan kedua lembaga tersebut dikukuhkan setelah penandatanganan nota kesepahaman (MoU) senilai USD 800 juta yang telah dilaksanakan pada Juni 2025 lalu. (luq)