CILEGON,LINTASBANTEN.COM- Ratusan nelayan yang tergabung dalam Dewan Pimpinan Cabang Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (DPC HNSI) Kota Cilegon menggelar aksi unjuk rasa di tengah laut.
Aksi berlangsung di depan TUKS (Terminal Untuk Kepentingan Pribadi) atau Jetty PT Dover Chemical, Kecamatan Grogol, Kota Cilegon, Rabu (13/11).
Berdasarkan hasil pantauan di lokasi sekitar pukul 09.00 WIB. Ratusan perahu nelayan tampak berjejer di atas laut mengitari TUKS/Jetty PT Dover Chemical.
Sambil mengibarkan bendera merah putih dan bendera biru bertuliskan HNSI, ratusan nelayan menyampaikan orasi di depan jajaran direksi PT Dover Chemical.
Dalam aksinya, mereka menuntut sejumlah hal kepada PT Dover Chemical. Di antaranya para nelayan menuntut pihak PT Dover Chemical untuk saling menghargai sesama pemanfaat pesisir kelautan Kota Cilegon.
Kemudian mereka juga mendesak PT Dover Chemical untuk menjalankan amanah regulasi tentang lingkungan hidup. Mereka meminta PT Dover Chemical memperhatikan nelayan sebagai salah satu masyarakat terdampak.
Selain itu, para nelayan juga mendesak PT Dover Chemical menjalankan amanah regulasi tentang Persetujuan Kesesuaian Kegiatan Pemanfaat Ruang Laut (PKKPRL).
“Kita di sini tidak menuntut apa-apa, kita hanya meminta untuk diperhatikan,” ujar pria berseragam warna biru saat berorasi di atas perahu.
Wakil Ketua I DPD HNSI Kota Cilegon, Supriyadi mengatakan, dalam aksi tersebut pihaknya menyampaikan tiga tuntutan. “Pada hari ini tuntutan kami ada tiga hal,” ujarnya saat ditemui di sela-sela aksi, Rabu (13/11).
Ada pun tiga tuntutan tersebut adalah sebagai berikut yaitu pertama, PT Dover Chemical diminta untuk saling menghargai sesama pemanfaat pesisir kelautan Kota Cilegon. Kedua, para nelayan mendesak PT Dover Chemical untuk menjalankan amanah regulasi tentang lingkungan hidup, untuk memperhatikan nelayan sebagai salah satu masyarakat terdampak dari keberadaan dan kegiatan PT Dover Chemical. Ketiga, para nelayan Cilegon mendesak agar PT Dover Chemical menjalankan amanah regulasi, tentang Persetujuan Kesesuaian Kegiatan Pemanfaat Ruang Laut (PKKPRL).
“Tuntutan ini kita meminta supaya manajemen PT Dover khususnya pimpinan PT Dover untuk bertanggungjawab, dan kita meminta hak atas persoalan tersebut,” ungkapnya.
Supriyadi menyebut, dalam aksi itu, ratusan nelayan dari berbagai rukun dan ranting di Kota Cilegon menyuarakan aspirasi langsung di depan PT Dover Chemical. Hal itu dikarenakan komunikasi antara nelayan dan pihak perusahaan dinilai buntu.
“Karena rukun dan ranting yang terdampak pada saat mengirimkan surat tidak pernah dibalas dan tidak pernah ada jawaban, padahal mediasi sudah kita upayakan,” jelasnya.
Dikatakan dia, aksi ini merupakan peringatan, bukan hanya untuk PT Dover Chemical, melainkan semua perusahaan yang memiliki Jetty di pesisir pantai laut. Supaya semua perusahaan industri bisa memperhatikan para nelayan yang terdampak di sekitarnya.
“Karena diduga banyak perusahaan juga yang melakukan pembuangan limbah yang tidak bertanggung jawab ke laut dan itu berdampak pada nelayan,” katanya.
Apalagi nelayan, kata dia, merupakan pejuang pangan yang harus diperhatikan pemerintah dan perusahaan.
“Harus dicamkan, hari ini kita turut membantu program pemerintah pusat terkait ketahanan pangan nasional, oleh karena itu nelayan juga butuh diperhatikan, sebagai mana kita cari ikan jangan diusir karena mempersoalkan sistem keamanan di Jetty masing-masing perusahaan,” ungkapnya.
Sebab kebanyakan nelayan di Cilegon, hanya menggunakan mesin tidak lebih dari 2 GT. “Karena biasanya, kalau kita mencari ikan keterbatasan masalah dengan bahan bakar, masalah dana dan modal ini sangat penting sekali,” tambahnya.
Berdasarkan hasil pantauan selama aksi unjuk rasa yang dilakukan oleh ratusan nelayan di depan TUKS/Jetty PT Dover Chemical ini sempat bersitegang.
Demo itu sempat diwarnai aksi gontok-gontokan antara nelayan dan pihak yang mewakili PT Dover Chemical. Namun setelah dilakukan mediasi dengan didampingi kepolisian, aksi tersebut berjalan damai.
Ketua DPC HNSI Kota Cilegon Rufaji Zahuri mengatakan, aksi gontok-gontokan yang sempat terjadi itu dipicu karena masing-masing pihak memiliki prinsip yang berbeda.
“Karena kedua belah pihak masing-masing punya prinsip dan sistem yang tidak sama, setelah kita melalui proses dan penjelasan sesuai dengan data yang kami miliki mereka menyadari itu,” terangnya.
Dalam aksi tersebut, pihaknya telah menyampaikan tiga tuntutan kepada pihak Dover Chemical. Menurut dia, sebagai pihak yang sama-sama pengguna pesisir laut harusnya saling menghargai masyarakat sekitar.
Namun selama berdirinya PT Dover Chemical di Cilegon, kata Rufaji, pihak perusahaan tidak pernah ada kepedulian terhadap nelayan.
“Kepedulian itu bukan berarti kami diberikan pekerjaan atau diberi skrap tentu tidak, karena nelayan bukan pemain proyek, bukan pemain skrap tapi nelayan ini keberadaan nya minimal diketahui saja,” ungkapnya.
Kata Rufaji, selama ini aktivitas bongkar material di perusahaan PT Dover Chemical selalu melalui zona nya nelayan. Hal itu mungkin belum diketahui oleh pihak PT Dover Chemical, karena informasi tersebut belum tersampaikan.
“Bagaimana mau mensosialisasikan itu, sementara nelayan saja tidak diketahui keberadaanya, bahkan belum pernah ada CSR ke nelayan,” jelasnya.
Namun demikian, usai aksi demo tersebut, pihak HNSI ataupun pihak PT Dover Chemical, akhirnya telah menyepakati tuntutan dari nelayan. “Alhamdulillah kesepakatan yang memang kita ajukan itu, akhirnya pihak Dover merealisasikan itu karena memang prosesnya sesuai, kami tidak mengada-ada,” jelasnya.
“Tuntutan yang kami lakukan sesuai dengan regulasi dan perundang-undangan yang berlaku, dan Alhamdulillah mereka menyetujui dan menandatangani di atas materai,” sambungnya.
Berdasarkan data HNSI Kota Cilegon, jumlah nelayan di Kota Cilegon ada ribuan orang. Sementara untuk nelayan yang khusus terdata di HNSI berjumlah sebanyak hampir 4.500 an. “Tergabung berdasarkan KTP ada 2.800 nelayan, tapi kalau KTP non nelayan ada 1.700 orang yang aktivitasnya di laut,” tambahnya.
Sementara itu, Assistance Manager Engineering PT Dover Chemical, Tedy Afrianto mengatakan, pihaknya telah menyetujui tuntutan dari para nelayan di Cilegon. “Kita terima masukan-masukan dari bapak semua, kita juga minta kepada pihak nelayan agar pantau kami, silahkan diperhatikan apabila ada yang kurang atau perlu diperbaiki bisa disampaikan saja,” tandasnya. (*/red)







