CILEGON,LINTASBANTEN.COM- Suasana pagi di kawasan industri Cilegon, Banten, terasa berbeda, Selasa (17/6). Sekitar pukul 07.30 WIB, puluhan buruh outsourcing terlihat berkumpul di depan gerbang PT Bungasari Flour Mills. Mereka membentangkan spanduk-spanduk berisi dukungan dan harapan. Sorotan utama tertuju pada satu pesan: #SaveBungasari.
Spanduk lain pun tak kalah menggugah. “Kami bersama Haji Hikmatullah,” tulis salah satunya. Ada pula yang menegaskan pentingnya investasi industri di kota baja itu: “Relokasi satu pabrik bisa memicu hengkangnya sepuluh pabrik lain. Tapi mempertahankan satu pabrik bisa menyelamatkan ribuan pekerja.”
Aksi damai ini diinisiasi oleh koalisi buruh outsourcing dan pekerja non-serikat. Mereka menyuarakan dukungan terhadap kelangsungan kerja di PT Bungasari dan mengapresiasi peran Haji Hikmatullah, anggota DPRD Kota Cilegon yang dinilai membantu memediasi persoalan tanpa tekanan atau intimidasi.
“Kami ingin tetap bisa bekerja dan mencari nafkah,” ujar Mansur, salah satu perwakilan buruh outsourcing dari PT Tri Daya, mitra kerja Bungasari. “Sistem kami harian. Kalau kerja, dibayar. Kalau tidak, ya tidak ada pemasukan.”
Mansur juga menyayangkan aksi mogok yang sempat dilakukan oleh sebagian karyawan tetap. Menurutnya, aksi tersebut berdampak langsung pada para pekerja outsourcing yang sebenarnya tidak memiliki kepastian kerja seperti karyawan tetap.
“Sebenarnya kami tidak ada masalah. Justru kami terdampak karena adanya ketegangan internal,” tegasnya.
Isu dugaan penabrakan yang menyeret nama Haji Hikmatullah turut disinggung. Mansur membantah kabar tersebut.
“Tidak ada penabrakan. Kendaraan beliau hanya dihadang saat hendak masuk ke pabrik. Itu perlu diluruskan,” katanya.
Sebagai tokoh masyarakat Tegal Ratu dan anggota legislatif, Haji Hikmatullah disebut-sebut aktif menampung keluhan buruh, terutama yang bekerja dengan sistem borongan dan outsourcing.
Di sisi lain, beberapa buruh tetap yang sebelumnya ikut aksi mogok kini mulai kembali bekerja. Mereka mengaku sadar bahwa pekerjaan tidak mudah didapat.
Hamsori, karyawan tetap Bungasari, mengaku sempat ikut aksi hanya karena terbawa arus.
“Saya ikut karena ikut-ikutan. Tapi sekarang sadar, kerja itu susah dicari. Saya berterima kasih masih bisa diterima kembali,” ucapnya.
Senada dengan Hamsori, Adi C, teknisi maintenance, mengatakan bahwa keputusannya untuk kembali bekerja murni karena tanggung jawab terhadap keluarga.
“Saya tidak dipaksa siapa pun. Ini pilihan pribadi. Saya juga perlu realistis. Kalau pekerjaan hilang, keluarga yang terdampak,” ujar Adi.
Sementara itu, Damara, seorang buruh produksi, menyampaikan penyesalannya karena sempat memprioritaskan emosi ketimbang logika.
“Saya punya anak, istri, dan orang tua. Saya takut kehilangan pekerjaan. Semoga manajemen mau membuka pintu maaf bagi kami yang ingin kembali,” tuturnya dengan suara lirih.
Tagar #SaveBungasari bukan hanya seruan untuk mempertahankan satu pabrik, melainkan juga simbol harapan dari ribuan buruh yang menggantungkan hidupnya pada roda industri di Cilegon. Di tengah dinamika hubungan industrial, para buruh berharap ada ruang dialog dan solusi damai tanpa mengorbankan pekerjaan yang telah mereka perjuangkan selama bertahun-tahun.(*/Red)










