CILEGON, LINTASBANTEN.COM – Momentum Ramadhan selalu menjadi saat yang tepat untuk mempererat tali persaudaraan dan kepedulian sosial. Namun, ada yang berbeda dalam perayaan bulan suci di Kelurahan Ciwaduk, Kecamatan Cilegon tahun ini.
Mengusung semangat kesetaraan, sebuah gelaran bertajuk “Setara Berkarya Berdaya Tanpa Batas” sukses mempertemukan puluhan penyandang disabilitas dalam suasana penuh kehangatan pada Selasa (10/3/2026).
Acara Gebyar Ramadhan ini bukan sekadar seremoni pembagian bantuan biasa. Lebih dari itu, kegiatan ini menjadi wadah bagi warga penyandang disabilitas untuk merasa diakui, didengarkan, dan dimotivasi agar terus berkarya meski di tengah keterbatasan fisik maupun mental.
Inisiatif yang digagas oleh Lurah Ciwaduk, Nurul Hadiyati, ini menyasar puluhan peserta dari berbagai lingkungan di wilayah tersebut.
Di tengah hiruk pikuk kota, kelompok disabilitas seringkali menjadi lapisan masyarakat yang kurang memperhatikan perhatian khusus secara emosional.
Menyadari hal tersebut, Kelurahan Ciwaduk mengambil langkah proaktif. Lurah Ciwaduk, Nurul Hadiyati menegaskan bahwa kegiatan ini merupakan wujud nyata kehadiran pemerintah di tengah masyarakat yang paling membutuhkan.
“Kami Pemerintah Kelurahan Ciwaduk mengadakan Gebyar Ramadhan khusus untuk penyandang disabilitas se-Kelurahan Ciwaduk,” ujarnya di sela-sela kegiatan.
Tak hanya sekedar berkumpul, para peserta yang hadir terdiri dari penyandang tuna netra, tuna rungu, hingga tuna grahita. Semua dirangkul dalam satu forum yang setara.
Salah satu tantangan besar dalam penyaluran bantuan sosial adalah akurasi data. Kelurahan Ciwaduk mengatasi hal ini dengan melibatkan struktur terkecil dalam masyarakat, yaitu Ketua RT dan RW. Pendekatan dari bawah ke atas ini memastikan bahwa mereka yang benar-benar membutuhkan dapat terjaring dalam program ini.
Nurul Hadiyati menjelaskan bahwa mekanisme pengumpulan massa dilakukan secara teliti. “Data ini kami peroleh dari seluruh ketua RT dan RW, baik yang tuna netra, tuna rungu maupun tuna grahita, kemudian kami kumpulkan pada kegiatan hari ini,” jelasnya.
Hingga saat ini, tercatat ada 55 penyandang disabilitas yang berhasil terdata. Namun, proses ini tidak berhenti begitu saja. Pihak kelurahan menunjukkan komitmen transparansi dan profesionalisme dengan terus memperbarui data di lapangan.
“Total saat ini ada 55 yang terdata, namun kami masih terus mencari dan mengumpulkan, khawatir masih ada warga yang belum terdata,” tuturnya.
Hal yang paling menarik dari Gebyar Ramadhan di Ciwaduk ini adalah skema pendanaannya. Di tengah keterbatasan anggaran pemerintah, Nurul Hadiyati membuktikan bahwa kepemimpinan yang baik mampu menggerakkan solidaritas publik. Kegiatan ini dilaksanakan secara non-budgeter, alias tidak menggunakan dana APBD secara langsung, melainkan melalui kolaborasi dengan berbagai donatur.
Hal ini menjadi bukti nyata bahwa ekosistem gotong royong di perkotaan masih sangat kuat. Para pengusaha lokal, warga yang mampu, hingga pihak swasta lainnya bahu-membahu menyukseskan acara ini.
“Hari ini kegiatan non budgeter. Kami mendapatkan dukungan dari para donatur, baik pengusaha, warga, maupun pihak lain di Kelurahan Ciwaduk. Terima kasih kepada seluruh donatur yang telah memberikan donasi,” ujarnya.
Melalui kemitraan ini, para peserta bisa pulang dengan senyum lebar setelah menerima paket sembako, bingkisan menarik, hingga santunan uang tunai yang diharapkan dapat meringankan beban ekonomi menjelang Idul Fitri.
Selain bantuan fisik, panitia menghadirkan Ketua Disabilitas Kreativitas Banten untuk memberikan sesi motivasi.
Dukungan moral ini bertujuan agar penyandang disabilitas di Ciwaduk memiliki kepercayaan diri yang tinggi untuk beraktivitas dan menciptakan karya. Suasana haru dan bangga mencatat lokasi kegiatan saat para peserta mendengarkan kesaksian dan semangat dari sesama penyandang disabilitas yang telah sukses.
“Alhamdulillah para peserta sangat antusias mengikuti kegiatan ini,” katanya.
Antusiasme ini menjadi indikator bahwa ruang-ruang inklusif seperti ini sangat dirindukan oleh masyarakat. Keberlanjutan program pun menjadi harapan besar bagi semua pihak. Nurul Hadiyati sendiri berjanji bahwa ini bukanlah akhir dari gerakan tersebut.
“Harapannya ini bukan yang pertama dan terakhir, tetapi akan dilakukan secara berkelanjutan,” tutupnya. (luq)













