LINTASBANTEN.COM – Baru tayang di bioskop, film 13 Bom di Jakarta akan menjadikan pengalaman baru bagi penikmat film dalam negeri.
Bagi penonton yang ingin merasakan suasana baru setelah beberapa bulan kebelakang film dalam negeri hanya menyajikan film bergenre horor dan romance, film 13 Bom di Jakarta menjadi rekomendasi menonton.
Film Karya terbaru sutradara Angga Dwimas Sasongko, 13 bom di Jakarta ini mengisahkan tentant sekumpulan teroris yang ingin menyerang Jakarta, ibukota Indonesia.
Film 13 Bom di Jakarta merupakan hasil produksi Visinema yang diklaim sebagai film aksi Indonesia terbesar di tahun ini lewat adegan aksi tembak menembak dan kejar-kejaran mobil yang digarap dengan skala produksi besar.
Film 13 Bom di Jakarta ini adalah terinspsirasi dari kisah nyata peristiwa pengeboman sebuah pusat perbelanjaan di Tangerang, Banten, pada 2015.
Film yang di sutradarai olehAngga Sasongko menjadi untuk film itu berdasarkan naskah yang dia tulis bersama M. Irfan Ramli tersebut dibintangi sejumlah aktor, mulai dari Rio Dewanto, Chicco Kurniawan, Lutesha, Ardhito Pramono, Putri Ayudya dan Ganindra Bimo.
Selain itu, 13 Bom di Jakarta juga diramaikan oleh penampilan aktor Aksara Dena, Niken Anjani, Muhammad Khan, Rukman Rosadi, dan Andri Mashadi,
Film 13 Bom di Jakarta diawali dengan hadirnya sekumpulan teroris yang melancarkan serangan di beberapat titik keramaian pusat kota Jakarta.
Kelompok teroris dengan nama Anonim itu semakin tak terelakan berbahaya setelah mengancam akan meledakan 13 bom yang akan di ledakan tersebar di Jakarta.
Ancaman yang berpotensi menghilangkan banyak nyawa warga Jakarta itu membuat Badan Kontra Terorisme (ICTA) harus berhadapan dengan teroris yang diorganisir dengan rapi.
Disisi lain, Dua konglomerat mata uang digital, yakni Oscar (Chicco Kurniawan) dan William (Ardhito Pramono), disinyalir kuat terlibat dalam organisasi terorisme itu.
Sebagai pemimpin teroris Arok (Rio Dewanto) memanfaatkan situasi semakin gencar dan tak ragu untuk melancarkan aksi mencekamnya.
Arahan Arok itu membuat grup terorisme bertindak semakin canggih dengan melakukan peretasan hingga melumpuhkan sistem keamanan dari ICTA. Pihak ICTA pun menduga kuat adanya penyusup dan pengkhianat yang terlibat di dalam tim. (Nas/red)













