CILEGON, LINTASBANTEN.COM – Pemerintah Kota (Pemkot) Cilegon telah menjalin kerja sama dengan PT. PLN Persero membangun Pabrik Pengelolaan Sampah Bahan Bakar Jumputan Padat (BBJP) di Tempat Pembuangan Sampah Akhir (TPSA) Bagendung Cilegon.
Wadah pengolahan daur ulang sampah menjadi bahan bakar pendamping batu bara atau co-firing itu saat ini tidak hanya dibangun di TPSA di Kelurahan Bagendung saja. Namun rencananya, Pemkot Cilegon akan melakukan hal yang sama di setiap kecamatan.
Plt Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Cilegon, Ahmad Aziz Setia Ade Putera mengatakan, jika sebelumnya pemkot membangun Pabrik BBJP TPSA Bagendung dengan Indonesia Power (IP) Unit 1-7 Suralaya.
Saat ini, pengolahan sampah BBJP akan menyasar ke 8 kecamatan di Cilegon. Satu diantaranya yang telah dijalin saat ini dengan IP Unit 8 di Kecamatan Pulomerak.
“Kan BBJP (TPSA Bagendung) yang sudah berjalan dengan IP Unit 1-7, sekarang kita punya rencana di kecamatan-kecamatan. Dari 8 kecamatan, itu baru di Lebak Gede dengan IP Unit 8 dan sekarang baru berjalan beberapa bulan lah,” kata Aziz, Minggu (15/1/2023).
“Jadi rencananya bukan di Pulomerak saja tetapi di kecamatan lain juga,” sambungnya.
Lebih lanjut, Aziz mengungkapkan, wadah BBJP di setiap kecamatan bentuknya seperti bank sampah di mana masyarakat akan mengolah sendiri. Itu artinya dengan melibatkan masyarakat, selain masalah sampah tertangani, efeknya lapangan pekerjaan menjadi terbuka. “Itu yang mengelola masyarakat, efeknya membuka lowongan kerja bagi yang ingin mengelola sampah. Jadi kita mendorong masyarakat dapat dilibatkan dalam hal pengolahan persampahan,” tuturnya.
Dikatakan Aziz, pengolahan sampah dengan memanfaatkan sampah menjadi BBJP, peluangnya begitu besar. Jika dihitung, lanjut Aziz, kebutuhan untuk memasok BBJP di IP sendiri 2 ribu ton sehari. Sementara jika volume sampah di Cilegon diolah menjadi BBJP diestimasi baru 100 ton sehari. “Jadi kalau misalnya sampah di Cilegon 300 ton sehari, baru menghasilkan 100 ton BBJP. Sepertiga dari BBJP-nya,” pungkasnya.
Kemudian dikatakan Aziz, dengan melihat peluang tersebut, pemkot fokus mengolah sampah menjadi energi. Pihaknya ke depan akan menjalin kerja sama dengan dibantu Pemerintah Pusat. Disisi lain, untuk mendongkrak retribusi sampah, pemkot juga akan bekerja sama dengan Pemerintah Kabupaten Serang dan industri.
“Jadi kalau nanti dari bantuan Kemen PUPR, 2024 beroperasi, itu 200 ton minimal sehari. Ditambah yang dari PLN 30 ton. Belum lagi yang di kecamatan, (BBJP) bisa terpenuhi. Makanya nanti kita konsepnya adalah gimana nya sampah di hulu selesai dan hilirnya di Bagendung, selesai dengan kabupaten,” tandasnya. (red)







