LINTASBANTEN.COM – Transformasi digital kini bukan lagi sekadar pilihan, melainkan keharusan bagi pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) agar tetap relevan di pasar modern.
Menyadari hal tersebut, Tim Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) 65 Universitas Bina Bangsa (UNIBA) mengambil langkah nyata dengan menggelar seminar edukatif bertajuk “Optimalisasi Digitalisasi UMKM melalui Google Maps, QRIS, Media Sosial, Katalog Digital, dan Pendampingan Sertifikasi Halal sebagai Upaya Meningkatkan Daya Saing Usaha”.
Kegiatan yang berlangsung pada Minggu, 2 Agustus 2026 ini dipusatkan di Kantor Desa Banyuwangi, Kecamatan Pulo Ampel, Kabupaten Serang, Provinsi Banten. Inisiatif ini muncul sebagai respon terhadap potensi besar produk lokal Desa Banyuwangi yang selama ini dinilai masih terkendala oleh keterbatasan akses teknologi dan strategi pemasaran digital.
Desa Banyuwangi memiliki beragam produk unggulan yang punya cita rasa khas dan kualitas tinggi. Namun, tanpa sentuhan digital, produk-produk ini sulit menjangkau konsumen di luar wilayah Serang.
Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan oleh tim mahasiswa selama masa KKM, ditemukan fakta bahwa banyak pelaku usaha yang masih menjalankan bisnisnya secara konvensional.
Perwakilan KKM 65 Universitas Bina Bangsa, Fatiyah mengatakan berdasarkan hasil observasi tersebut, sebagian besar pelaku UMKM di Desa Banyuwangi telah memiliki produk yang berkualitas, seperti gipang, emping melinjo, dan peyek. Namun, masih ditemukan berbagai kendala dalam pemasaran dan pemanfaatan teknologi digital.
“Beberapa pelaku usaha belum memiliki lokasi usahanya di Google Maps, belum menggunakan QRIS sebagai metode pembayaran digital, belum memanfaatkan media sosial sebagai sarana promosi, belum memiliki katalog digital, serta masih memerlukan pendampingan terkait sertifikasi halal,” ujarnya.
Melalui seminar ini, tim KKM 65 UNIBA tidak hanya memberikan teori, tetapi juga panduan praktis mengenai lima pilar utama digitalisasi. Pertama adalah visibilitas melalui Google Maps. Dengan mendaftarkan titik lokasi usaha, pelanggan dari luar kota dapat dengan mudah menemukan lokasi produksi atau toko fisik UMKM di Desa Banyuwangi.
Kedua, penerapan sistem pembayaran QRIS (Quick Response Code Indonesian Standard). Di era cashless seperti sekarang, menyediakan metode pembayaran digital adalah cara paling efektif untuk mempermudah transaksi dan meningkatkan profesionalisme usaha.
Ketiga dan keempat adalah penguatan konten melalui Media Sosial dan Katalog Digital. Media sosial bukan sekadar tempat berbagi foto, melainkan etalase digital yang mampu membangun narasi produk agar lebih menarik di mata konsumen milenial dan Gen Z.
Fatiyah menjelaskan bahwa digitalisasi memiliki cakupan yang luas bagi keberlangsungan bisnis.
Melalui seminar ini, kata Fatiyah Tim KKM 65 Universitas Bina Bangsa berupaya memberikan pemahaman bahwa digitalisasi tidak hanya berkaitan dengan promosi melalui media sosial, tetapi juga mencakup penguatan identitas usaha melalui Google Maps, penerapan sistem pembayaran digital menggunakan QRIS, penyusunan katalog digital yang menarik, serta pendampingan sertifikasi halal sebagai langkah untuk meningkatkan kepercayaan konsumen.
Selain aspek teknologi, legalitas produk melalui sertifikasi halal menjadi sorotan utama dalam kegiatan ini. Bagi produk makanan seperti gipang, emping, dan peyek, label halal bukan sekadar kewajiban administratif, melainkan jaminan kualitas yang dapat meningkatkan kepercayaan konsumen secara signifikan di pasar nasional maupun internasional.
Perwakilan KKM 65 Universitas Bina Bangsa lainnya, Abdul Gofar mengatakan materi yang disampaikan meliputi tata cara mendaftarkan lokasi usaha pada Google Maps agar mudah ditemukan pelanggan, penggunaan QRIS untuk mempermudah transaksi non-tunai, strategi promosi melalui media sosial, penyusunan katalog digital yang menarik sebagai media pemasaran, serta pentingnya sertifikasi halal dalam meningkatkan kredibilitas dan daya saing produk UMKM.
Gofar menekankan bahwa penguasaan teknologi digital akan membuat UMKM lebih tangguh menghadapi perubahan zaman.
“Melalui kegiatan ini, diharapkan para pelaku UMKM mampu meningkatkan pengetahuan dan keterampilan dalam memanfaatkan teknologi digital untuk mengembangkan usahanya secara lebih modern, adaptif, dan kompetitif,” ujarnya.
Penerapan inovasi-inovasi tersebut diharapkan tidak hanya berdampak pada peningkatan omzet jangka pendek, tetapi juga pada penguatan struktur ekonomi masyarakat Desa Banyuwangi secara berkelanjutan.
Kesuksesan acara ini tidak lepas dari dukungan berbagai pihak yang peduli terhadap kemajuan ekonomi akar rumput. Pemerintah Desa Banyuwangi memberikan dukungan penuh atas inisiatif mahasiswa yang turun langsung mendampingi para pelaku usaha lokal.
Ketua Pelaksana Kegiatan, Farhan Alfarizi mengatakan, Tim KKM 65 Universitas Bina Bangsa menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada Pemerintah Desa Banyuwangi, narasumber, para pelaku UMKM, dosen pembimbing lapangan, serta seluruh pihak yang telah mendukung terselenggaranya kegiatan ini.
Farhan optimis bahwa langkah kecil ini dapat memicu perubahan besar bagi lanskap bisnis di pedesaan.
“Diharapkan seminar ini menjadi langkah awal dalam mendorong transformasi digital UMKM di Desa Banyuwangi sehingga mampu bersaing dan berkembang di era digital,” tandasnya. (luq)












