CILEGON, LINTASBANTEN.COM – Dunia seni tari tradisional Indonesia kembali dikejutkan dengan lahirnya talenta muda berbakat yang mampu mendobrak dominasi daerah asal.
Quinesha Sandrina Kusumah, seorang penari cilik asal Kota Cilegon, Banten, berhasil membuktikan bahwa dedikasi dan latihan keras mampu melampaui batasan geografis budaya.
Dalam ajang lomba tari Jaipong tingkat nasional yang digelar di Jakarta pada Minggu (8/2/2026), Quinesha sukses meraih predikat Juara II.
Kemenangan ini menjadi sangat spesial dan mengesankan karena Quinesha berhasil menyisihkan sedikitnya 35 peserta dari berbagai penjuru tanah air.
Yang paling mencuri perhatian, para pesaing yang berhasil ia lampaui justru berasal dari daerah-daerah yang selama ini dikenal sebagai “jantung” atau pusat seni tari Jaipong, seperti Bandung, Karawang, hingga pelosok Jawa Barat lainnya.
Keberhasilan Quinesha bukanlah didapat secara instan. Di bawah naungan Sanggar Puspa Arum Cilegon, ia menjalani proses latihan yang panjang dan disiplin.
Kelihaiannya dalam membawakan gerakan Jaipong yang dinamis, ekspresif, sekaligus penuh tenaga, mampu memikat hati para dewan juri di tengah ketatnya persaingan Jabodetabek dan sekitarnya.
Saat ditemui setelah kemenangannya, Quinesha tidak dapat menyembunyikan rasa syukurnya. Ia menyadari bahwa pencapaian ini adalah buah dari kerja kolektif antara bakat, kerja keras, dan doa.
“Alhamdulillah atas dukungan berbagai pihak, saya kembali meraih juara dua dalam lomba tari tingkat nasional di Jakarta,” ujar Quinesha, Jum’at (13/2/2026).
Pencapaian ini sekaligus menegaskan bahwa Kota Cilegon kini tidak hanya dikenal sebagai kota industri, tetapi juga gudang talenta seni yang mampu bersaing di kancah nasional.
Quinesha berharap prestasi ini bisa menjadi motivasi bagi generasi muda lainnya di Banten untuk tetap mencintai dan melestarikan budaya nusantara.
“Prestasi ini hasil dari latihan yang rutin dan semoga bisa terus membanggakan keluarga serta Kota Cilegon dalam pelestarian seni budaya,” tuturnya.
Quinesha Sandrina Kusumah adalah potret generasi alfa yang mampu menyeimbangkan antara kecintaan pada tradisi dengan tuntutan zaman modern.
Gadis cilik yang duduk di bangku kelas V SDI Al-Azhar 40 Cilegon ini dikenal sebagai sosok yang sangat aktif. Tidak hanya mahir menggerakkan tubuh di atas panggung tari, ia juga terjun ke dunia modeling.
Menariknya, kecintaan Quinesha pada seni seolah sudah mengalir dalam darahnya.
Ia merupakan perpaduan harmonis antara keturunan tanah Sunda dari sang ayah dan Banten dari sang ibu. Bakat seni yang luar biasa ini disebut-sebut diwarisi dari nenek buyutnya, menjadikannya seorang penjaga nyala api tradisi keluarga yang otentik.
Namun, jangan salah sangka. Meski sangat mencintai tari tradisional, Quinesha tidak gagap teknologi. Di sela waktu sekolah dan latihannya, ia memiliki ketertarikan kuat di bidang teknologi informasi (IT) serta rutin berolahraga renang untuk menjaga kebugaran fisiknya.
Kehebatan Quinesha semakin lengkap dengan catatan prestasinya di sekolah. Meski memiliki jadwal kegiatan non-akademik yang padat, ia terbukti mampu menjaga konsistensi belajarnya dengan selalu masuk dalam jajaran lima besar di kelasnya. Hal ini membuktikan bahwa hobi dan prestasi akademik bisa berjalan beriringan jika dikelola dengan manajemen waktu yang baik.
Di balik kesuksesan seorang anak, selalu ada peran orang tua yang luar biasa. Quinesha mengakui bahwa kebebasannya untuk mengeksplorasi minat dan bakatnya sangat didukung oleh lingkungan rumah.
Kemampuannya membawakan berbagai jenis tarian mulai dari tari kreasi, tradisional, silat, hingga modern dance adalah bukti betapa luasnya ruang gerak yang diberikan orang tuanya untuk ia berkembang.
“Saya bersyukur memiliki orang tua dan keluarga yang selalu mendukung passion yang saya pilih,” kata Quinesha.
Kisah Quinesha Sandrina Kusumah memberikan inspirasi bagi masyarakat di kota-kota besar Indonesia, khususnya bagi para orang tua muda dalam mendidik anak di era digital.
Bahwa mengenalkan budaya tradisional seperti tari Jaipong sejak dini tidak akan menghambat kemajuan sang anak di bidang teknologi maupun akademik. Sebaliknya, seni memberikan karakter, disiplin, dan rasa percaya diri yang tinggi bagi pertumbuhan sang buah hati.
Kini, dengan piala juara nasional di tangan, langkah Quinesha diprediksi akan semakin lebar dalam mengharumkan nama Banten dan Indonesia di panggung-panggung budaya yang lebih besar di masa depan. (luq)







