LINTASBANTEN.COM – Transformasi digital kini mulai merambah ke tingkat pemerintahan terkecil di Indonesia. Salah satu aksi nyata ditunjukkan oleh Bidang 5 Tata Kelola Pemerintahan Desa/Kelurahan, Pelayanan Publik, dan Inovasi Teknologi dari Kelompok Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) 65 Universitas Bina Bangsa (UNIBA). Mereka resmi meluncurkan program kerja Digitalisasi Website dan Pemetaan di Desa Banyuwangi, Kecamatan Pulo Ampel, Kabupaten Serang, Banten.
Langkah ini diambil untuk menjawab tantangan zaman di mana akses informasi publik harus tersedia secara cepat, akurat, dan transparan. Program inovatif ini digawangi oleh tim mahasiswa yang terdiri dari Zaki, Ramadhan, Afrizal Fajar Suuherlan, Alfaro Bima Putra, dan Muhammad Rizky Nurzaman. Fokus utama mereka adalah membangun infrastruktur digital yang dapat memperpendek jarak antara pemerintah desa dan warganya.
Di era keterbukaan informasi, sebuah desa dituntut untuk memiliki etalase digital yang dapat memperkenalkan jati dirinya ke masyarakat luas. Desa Banyuwangi yang memiliki berbagai potensi wilayah dan fasilitas publik kini memiliki wadah resmi untuk mempublikasikan hal tersebut secara terstruktur.
Zaki, selaku perwakilan Bidang 5 KKM 65 Universitas Bina Bangsa, mengungkapkan bahwa program ini bukan sekadar mengikuti tren, melainkan sebuah kebutuhan mendasar bagi tata kelola desa di masa depan.
“Program kerja ini dilatarbelakangi oleh kebutuhan Desa Banyuwangi terhadap penyediaan informasi desa yang lebih mudah diakses dan mengikuti perkembangan teknologi. Kami melihat bahwa website desa dan peta digital dapat menjadi sarana untuk memperkenalkan potensi, wilayah, fasilitas, serta berbagai informasi mengenai Desa Banyuwangi kepada masyarakat secara lebih praktis dan terstruktur,” ujar Zaki, Perwakilan Bidang 5 (Tata Kelola Pemerintahan Desa/Kelurahan, Pelayanan Publik, dan Inovasi Teknologi) KKM 65 Universitas Bina Bangsa.
Program ini terbagi menjadi dua pilar utama, yakni pengembangan portal web resmi dan pembuatan peta digital. Peta digital ini berfungsi sebagai panduan visual bagi siapa saja yang ingin mengetahui koordinat fasilitas umum, batas wilayah, hingga titik-titik potensi ekonomi yang ada di Desa Banyuwangi. Di sisi lain, website desa berperan sebagai pusat data yang menyimpan sejarah desa, struktur organisasi, hingga berita terkini mengenai kegiatan pemerintahan desa.
Dengan adanya kedua instrumen ini, Desa Banyuwangi diharapkan tidak lagi tertinggal dalam aspek pelayanan publik berbasis teknologi. Integrasi data yang baik akan memudahkan pemerintah desa dalam merencanakan pembangunan wilayah berdasarkan peta digital yang akurat.
Terkait tujuan mendalam dari inisiatif ini, Zaki menjelaskan bahwa digitalisasi informasi adalah kunci bagi keterlibatan masyarakat yang lebih aktif.
“Tujuan utamanya adalah membantu Desa Banyuwangi dalam melakukan digitalisasi informasi desa. Melalui website, masyarakat dapat memperoleh berbagai informasi mengenai desa secara online, sedangkan peta digital dibuat untuk memberikan gambaran mengenai wilayah serta lokasi fasilitas dan potensi yang ada di Desa Banyuwangi. Kami berharap keduanya dapat menjadi media informasi yang bermanfaat bagi pemerintah desa maupun masyarakat,” kata Zaki.
Dengan adanya website resmi, kredibilitas Pemerintah Desa Banyuwangi akan meningkat di mata warga maupun investor potensial yang ingin melirik potensi desa tersebut.
Namun, tantangan terbesar dari setiap program digitalisasi adalah aspek keberlanjutan. Pemeliharaan data dan pembaruan informasi menjadi pekerjaan rumah yang harus diteruskan oleh perangkat desa setempat setelah masa KKM mahasiswa UNIBA berakhir.
Zaki menekankan pentingnya komitmen pemerintah desa dalam menjaga warisan digital ini agar tetap relevan dengan kondisi lapangan yang dinamis.
“Harapan kami, website dan peta digital ini dapat terus digunakan, dikelola, dan diperbarui oleh pemerintah Desa Banyuwangi setelah program KKM selesai. Kami berharap informasi yang tersedia dapat terus dikembangkan sehingga semakin lengkap dan sesuai dengan kondisi desa. Selain itu, semoga program ini dapat menjadi langkah awal dalam mendorong digitalisasi pelayanan dan penyebaran informasi di Desa Banyuwangi,” tandasnya.
Melalui program kerja ini, KKM 65 Universitas Bina Bangsa telah meletakkan batu pertama bagi transformasi digital di Desa Banyuwangi. Sinergi antara akademisi dan pemerintah desa ini diharapkan menjadi role model bagi desa-desa lain di Kabupaten Serang untuk mulai mengadopsi teknologi dalam tata kelola pemerintahannya. Digitalisasi bukan hanya soal memiliki website, tetapi soal bagaimana memberikan pelayanan publik yang lebih mudah, praktis, dan terstruktur bagi seluruh lapisan masyarakat. (luq)












