LINTASBANTEN.COM – Sektor roti kemasan, tengah menghadapi dinamika yang cukup menantang sepanjang tahun 2025. PT Nippon Indosari Corpindo Tbk (ROTI), produsen roti dengan merek dagang Sari Roti, baru saja merilis laporan keuangan tahunan yang menunjukkan adanya kontraksi pada laba bersih perusahaan.
Meski di satu sisi terdapat pertumbuhan signifikan pada kategori produk tertentu, hal tersebut nyatanya belum mampu menopang laba secara keseluruhan.
Berdasarkan Laporan Keuangan 2025, emiten berkode saham ROTI ini membukukan laba bersih sebesar Rp 258,5 miliar. Angka ini mencerminkan penurunan yang cukup tajam, yakni sebesar 28,7% dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya.
Kondisi ini menjadi sorotan para pelaku pasar dan investor, mengingat Sari Roti merupakan pemain dominan di pasar domestik yang memiliki jaringan distribusi sangat luas.
Secara topline, pendapatan perusahaan sebenarnya tidak mengalami kerugian yang ekstrem. Pendapatan ROTI hanya turun tipis 4,4% menjadi Rp 3,8 triliun pada akhir Desember 2025.
Namun, anomali terjadi pada komposisi penjualan produknya. Di saat kategori produk lain menunjukkan kinerja positif, produk utama yang selama ini menjadi tulang punggung perusahaan justru lesu.
Data perusahaan mengungkapkan bahwa penjualan produk kue dan barang lainnya berhasil tumbuh dengan laju dua digit.
Namun, tren positif di kategori kue ini harus berbenturan dengan kenyataan pahit pada kategori utama.
Penjualan dua produk utama ROTI – “roti putih” dan “roti manis” masing-masing turun 7,1% dan 1,2%. Hal ini menjadi krusial mengingat kedua kategori ini adalah penyumbang pendapatan terbesar bagi perusahaan.
Perlu dicatat bahwa “roti putih” dan “roti manis” menyumbang hampir 90% dari total penjualan ROTI, yang berdampak pada kinerja pendapatan perusahaan secara keseluruhan.
Ketika fundamental penjualan produk utama terganggu, maka pertumbuhan di segmen sampingan seperti kue tidak mampu menutup celah kehilangan pendapatan tersebut.
Salah satu faktor yang memperparah kondisi keuangan perusahaan adalah keseimbangan antara penurunan pendapatan dan efisiensi biaya.
Meski pendapatannya turun 4,4%, biaya pokok penjualan hanya turun sebesar 1,2% sehingga menekan laba dan margin keuntungan. Hal ini menunjukkan adanya tekanan pada biaya produksi, mulai dari bahan baku hingga biaya operasional pabrik yang tetap tinggi di tengah penurunan volume penjualan.
Tekanan ini terlihat jelas pada rasio profitabilitas perusahaan. Margin laba kotor tercatat turun dari 54,6% menjadi 53,1%. Kondisi ini diperparah dengan margin laba bersih yang ikut merosot dari 9,2% menjadi hanya 6,9%.
Penurunan margin ini menjadi indikasi kuat bahwa perusahaan sedang berjuang melawan kenaikan biaya logistik atau bahan baku yang tidak dapat sepenuhnya dibebankan pada harga jual konsumen.
Dari sisi distribusi, ketergantungan ROTI terhadap jaringan ritel modern masih sangat tinggi. PT Indomarco Prismatama (“Indomaret”) menjadi kontributor penjualan ROTI terbesar pada tahun 2025, yakni sebesar 34,67%. Sedangkan PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT) atau “Alfamart” menyumbang 25,35% penjualan.
Ketergantungan pada dua raksasa ritel ini menunjukkan betapa pentingnya rak toko modern bagi kelangsungan bisnis Sari Roti.
Selain isu pada laporan laba rugi, posisi neraca perusahaan juga menunjukkan penyusutan.
Total aset ROTI menurun 5,6% menjadi Rp 3,5 triliun pada akhir tahun 2025. Salah satu poin yang mencolok adalah penurunan posisi likuiditas, di mana kas dan setara kas tercatat sebesar Rp 270,5 miliar, turun tajam dari Rp 430,9 miliar pada Desember 2024.
Penurunan kas yang cukup signifikan ini seringkali disebabkan oleh upaya perusahaan dalam memenuhi kewajiban atau membantu operasional di tengah arus kas masuk dari aktivitas penjualan.
Sementara itu, ekuitas perusahaan tercatat berada di level Rp 2,0 triliun. Meskipun secara permodalan masih terlihat stabil, tantangan operasional ke depan yang diprediksi akan semakin berat jika daya beli masyarakat tidak segera pulih.
Seperti yang sempat disebutkan dalam analisis pasar sebelumnya, “Daya beli yang lemah tetap menjadi tantangan, laba ROTI turun 45%” yang sempat menjadi perhatian industri selama periode berjalan. (luq)












