CILEGON, LINTASBANTEN.COM – Permasalahan sampah plastik masih menjadi tantangan besar bagi masyarakat Indonesia khususnya di kota-kota besar.
Di tengah kekhawatiran akan polusi laut dan menumpuk di Tempat Pembuangan Sampah Akhir (TPSA), muncullah sebuah solusi inovatif dari industri manufaktur.
PT Chandra Asri Pacific telah membuktikan bahwa sampah plastik yang selama ini dianggap sebagai beban lingkungan, justru bisa diubah menjadi sumber energi yang bermanfaat berupa Bahan Bakar Minyak (BBM).
Selama lima tahun terakhir, perusahaan tersebut secara konsisten mengembangkan program pengolahan sampah menjadi BBM jenis solar dan minyak tanah.
Langkah ini bukan sekadar upaya menjaga kebersihan lingkungan, melainkan sebuah terobosan untuk mencegah sampah plastik agar tidak menjadi polutan yang merusak ekosistem laut, sungai, dan kesuburan tanah.
Dari upaya yang dilakukan di Industri Pengolahan Sampah Terpadu (IPST) ASARI yang berlokasi di Lingkungan Serdag, Kota Cilegon, Banten, kini telah menghasilkan sebanyak 26.800 liter BBM.
Produk inovatif ini secara resmi diberi nama PLUSRI. Kehadiran PLUSRI menjadi bukti nyata bahwa teknologi mampu mengubah barang sisa menjadi komoditas bernilai tinggi.
Ketua IPST ASARI, Murad M. Yasin menjelaskan bahwa keberadaan fasilitas ini memberikan dampak ganda, baik bagi lingkungan maupun kesejahteraan warga sekitar.
Ia menekankan pentingnya nilai ekonomi yang lahir dari proses ini.
“Produk ini tidak hanya membantu mengurangi timbulnya sampah plastik, tetapi juga memberikan manfaat ekonomi melalui aktivitas penjualan beli serta mendukung kebutuhan UMKM di sekitar wilayah operasional,” ujar Murad M. Yasin, ditulis Kamis, (12/3/2026).
Di lokasi IPST ASARI, setiap harinya sebanyak 300 kg sampah plastik diolah. Sampah tersebut tidak hanya diubah menjadi BBM, tetapi juga menjadi cacahan plastik yang memiliki nilai ekonomis di pasar industri.
Hal ini menunjukkan bahwa skema ekonomi sirkular benar-benar dapat diimplementasikan di tingkat lokal.
Satu hal yang menarik dari operasional IPST ASARI adalah pengelolaannya yang dilakukan secara mandiri oleh Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) Sehati Maju Bersama.
Ini bukan sekadar proyek perusahaan, melainkan gerakan sosial yang melibatkan masyarakat luas. Sejak tahun 2021, program ini tercatat telah melibatkan lebih dari 9.200 masyarakat lokal dalam berbagai lini aktivitas operasional.
Keterlibatan warga mencakup spektrum yang luas, mulai dari proses pengumpulan sampah dari rumah-rumah, pemilahan jenis plastik, hingga tahap teknis pengelolaan menjadi produk energi.
Aktivitas ini secara otomatis membuka lapangan kerja baru bagi masyarakat Cilegon, membantu mereka mendapatkan penghasilan tambahan sekaligus meningkatkan keterampilan teknis.
Circular Economy & Partnership Manager Chandra Asri Group, Nicko Setyabudi menekankan bahwa perusahaan berperan aktif dalam membekali masyarakat dengan kemampuan teknis dan peralatan yang mumpuni.
“Kami memfasilitasi pengembangan keahlian bagi para pekerja di IPST ASARI serta menyediakan dukungan teknologi mesin yang membantu mengoptimalkan proses pengolahan sampah plastik,” ujar Nicko Setyabudi.
Kehadiran IPST ASARI di Cilegon diharapkan mampu menjadi solusi krusial bagi permasalahan sampah kota.
Saat ini, TPSA Bagendung di Kota Cilegon harus menerima beban yang sangat berat, yakni mencapai 200 ton sampah per harinya.
Dengan adanya pengolahan mandiri di tingkat lingkungan seperti yang dilakukan IPST ASARI, volume sampah yang berakhir di TPSA dapat ditekan secara signifikan.
Lebih dari sekadar angka produksi BBM, tujuan jangka panjang dari inisiatif ini adalah transformasi pola pikir masyarakat dalam melihat limbah. Sampah plastik seringkali dianggap sebagai masalah yang tidak memiliki ujung, namun melalui edukasi dan bukti nyata dari program ini, pandangan tersebut mulai bergeser.
Nicko Setyabudi menjelaskan bahwa edukasi mengenai pemilahan sampah dari sumbernya adalah kunci utama.
Jika sampah dipilah dengan benar sejak dari rumah tangga, maka potensi ekonomi yang dihasilkan akan jauh lebih besar dan prosesnya pun akan lebih ramah lingkungan.
“Kehadiran IPST ASARI juga diharapkan dapat mendorong perubahan cara pandang masyarakat untuk melihat sampah, khususnya sampah plastik, sebagai sumber daya yang memiliki nilai ekonomi,” jelasnya. (luq)













