JAKARTA, LINTASBANTEN.COM – Tren investasi pasar modal di kalangan masyarakat usia produktif di kota-kota besar terus menunjukkan gairah yang positif.
Salah satu aksi korporasi yang tengah mendapat perhatian pasar saat ini datang dari emiten yang bergerak di bidang penyedia energi terintegrasi, PT Rukun Raharja Tbk, dengan kode saham RAJA.
Perusahaan milik pengusaha ternama Happy Hapsoro ini secara resmi telah mengumumkan rencana pembelian kembali saham perusahaan atau yang lazim diketahui di kalangan investor sebagaipembelian kembali.
Tidak tanggung jawab, nilai yang disiapkan oleh manajemen untuk menyerap saham di pasar mencapai angka Rp250 miliar.
Bagi sebagian investor publik, aksipembelian kembalidalam skala masif sering kali muncul tanda tanya, terutama terkait likuiditas saham di bursa.
Kekhawatiran yang sering muncul adalah apakah penyerapan saham oleh perusahaan akan menggerus porsi kepemilikan saham publik (mengambang bebas) hingga batas yang mengancam likuiditas transaksi sehari-hari.
Menjawab kekhawatiran tersebut, manajemen PT Rukun Raharja Tbk (RAJA) memberikan penegasan bahwa aksi korporasi bernilai ratusan miliar ini telah dihitung secara cermat agar struktur kepemilikan publik dan likuiditas saham di pasar tetap dalam kondisi yang sangat terjaga.
Untuk memberikan gambaran yang transparan kepada para pemegang saham, manajemen memaparkan komposisi kepemilikan saham sebelum aksi ini dilaksanakan.
Berdasarkan data per 28 Januari 2026, jumlah saham RAJA yang tercatat secara total mencapai 4,22 miliar saham. Dari jumlah agregat tersebut, porsimengambang bebasatau saham yang beredar di publik tercatat sebanyak 1,04 miliar saham, yang mana angka ini setara dengan 24,67 persen dari total saham.
Sebagai perbandingan dengan regulasi pasar modal, Bursa Efek Indonesia (BEI) saat ini menetapkan ketentuan minimummengambang bebassebesar 7,5 persen.
Bahkan, ada rencana perubahan Peraturan Bursa Nomor IA oleh BEI yang berpotensi menaikkan batas minimum saham publik tersebut menjadi 15 persen.
Melihat perbandingan angka tersebut, posisi saham publik RAJA sebelumnyapembelian kembalisudah berada sangat jauh di atas batas aman regulasi yang ada maupun rencana regulasi yang baru.
Langkah strategis RAJA ini juga telah disimulasikan secara matang. Sekretaris Perusahaan RAJA, Yuni Pattinasarani, melalui keterbukaan informasi pada Senin (23/2/2026), menjelaskan secara rinci proyeksi pasca-aksi korporasi.
Dengan asumsi bahwa seluruh saham hasilpembelian kembalisenilai Rp250 miliar tersebut dicatat sebagai sahamperbendaharaanoleh perusahaan, maka jumlah sahamperbendaharaantersebut diperkirakan akan mencapai 54,47 juta saham.
“Setelah pelaksanaan pembelian kembali, jumlah saham free float Perseroan menjadi 988,43 juta saham atau sekitar 23,38%,” pernyataan tersebut memberikan kepastian matematis bahwa porsi saham publik (23,38 persen) akan tetap kokoh dan jauh melampaui potensi kenaikan batas minimummengambang bebas15 persen yang diwacanakan BEI.
Perusahaan menetapkan bahwa perhitungan yangbijaksana(hati-hati) ini adalah bukti komitmen mereka untuk memastikan struktur kepemilikan publik tetap sehat dan seluruh ketentuan pencatatan saham di bursa dipatuhi tanpa diturunkan.
Secara teknis pelaksanaannya, para investor di kota-kota besar yang aktif bertransaksi tidak perlu khawatir akan adanya gangguan pasar.
Manajemen memastikan bahwa penyerapan saham RAJA ini nantinya akan dilakukan secara transparan melalui mekanisme Pasar Reguler di Bursa Efek Indonesia.
Untuk memfasilitasi transaksi bernilai jumbo ini, PT Rukun Raharja Tbk telah menunjuk salah satu anggota bursa yang kredibel, yakni PT Henan Putihrai Sekuritas.
Dengan seluruh perhitungan dan persiapan yang matang ini, manajemen menegaskan bahwa tata kelola pasar modal yang berlaku tetap menjadi pedoman utama dalam setiap langkah perusahaan. (luq)







