SERANG,LINTASBANTEN.COM- Di tengah semaraknya persiapan perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW, para pengrajin Panjang Mulud di Kota Serang terus berpacu dengan waktu.
Kerajinan ornamen yang menjadi ciri khas perayaan ini di Banten kini masih menanti momen puncaknya.
Meskipun penjualan awal terasa lambat, para pengrajin tetap optimis bahwa permintaan akan melonjak drastis menjelang hari-H.
Salah satu pengrajin yang telah lama berkecimpung dalam tradisi ini adalah Qosim, warga Kampung Kubang Mas, Kelurahan Warung Jaud, Kecamatan Kasemen Kota Serang.
Sudah lima tahun terakhir, ia fokus membuat Panjang Mulud secara musiman, hanya menjelang perayaan Maulid.
Qosim menghasilkan berbagai kreasi unik, mulai dari replika rumah adat hingga menara, yang dibuat dalam jumlah besar.
“Kadang-kadang ada 200 unit, kadang lebih, ya tergantung pesanan,” ujar Qosim, Selasa (2/9).
Ia menjelaskan, kapasitas produksinya yang bisa mencapai ratusan unit ini disesuaikan dengan banyaknya pesanan yang masuk.
Setiap unit Panjang Mulud dihargai Rp200 ribu sebuah harga yang sepadan dengan detail dan kerumitan pengerjaannya.
Meskipun saat ini penjualan masih sepi, Qosim tidak kehilangan semangat. Ia memiliki keyakinan kuat bahwa fenomena ini adalah siklus tahunan yang biasa terjadi.
“Penjualan tahun ini masih sepi, belum ramai sih, peminatnya masih kurang,” ungkapnya.
Membandingkan dengan tahun sebelumnya di mana semua hasil karyanya ludes terjual.
“Kalau dari tahun kemarin alhamdulillah semua habis,” ujarnya.
Qosim menambahkan, puncaknya penjualan biasanya terjadi tepat di hari perayaan Maulid, yakni pada tanggal 12 Rabiul Awal.
“Biasanya juga pas hari H-nya, atau tanggal 12 Rabiul Awal itu ramainya,” jelasnya.
Hingga saat ini, ia baru menyelesaikan sekitar 100 unit, dan harapannya sama dengan tahun-tahun sebelumnya.
“Harapan saya, semoga seperti tahun-tahun sebelumnya, Panjang Mulud ini semua terjual,” tuturnya penuh harap.
Keyakinan serupa juga dirasakan oleh pengrajin lainnya, Atung. Ia juga mengakui bahwa penjualan saat ini masih belum ramai, namun ia optimis bahwa permintaan akan meningkat tajam jelang hari-H perayaan.
Atung pun mengungkapkan bahwa ia baru menyelesaikan sekitar 100 unit Panjang Mulud.
Dengan semangat yang sama, para pengrajin di Serang terus bekerja keras, menjaga tradisi leluhur tetap hidup dan berharap agar antusiasme masyarakat kembali memuncak.
Ia percaya bahwa meskipun permulaan terlihat sepi, tradisi dan nilai-nilai yang terkandung dalam Panjang Mulud akan selalu menemukan tempat di hati masyarakat, terutama saat momen spesial perayaan Maulid Nabi tiba. (*/red)







