LINTASBANTEN.COM – Langkah strategis diambil oleh PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR) dalam memperkuat fundamental keuangannya di awal tahun ini. Emiten bertangan dingin milik Grup Bakrie ini resmi telah mengantongi lampu hijau dari para pemegang saham untuk melakukan aksi korporasi berupa penambahan modal dengan hak memesan efek terlebih dahulu (PMHMETD) atau yang lebih dikenal dengan sebutanpenerbitan hak.
Tak main-main, target dana yang diincar mencapai angka fantastis, yakni Rp 6,5 triliun. Persetujuan ini diperoleh melalui Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) yang digelar di Jakarta pada Jumat (27/2).
Keputusan ini menjadi sinyal kuat bagi pasar bahwa BNBR sedang melakukan pembersihan neraca keuangan sekaligus menyiapkan amunisi untuk ekspansi bisnis yang lebih agresif, khususnya di sektor infrastruktur jalan tol.
Dalam rencana aksi korporasi tersebut, BNBR akan menerbitkan sebanyak-banyaknya 90 miliar saham baru Seri E. Langkah ini diambil untuk memastikan perusahaan memiliki keuangan yang cukup dalam menahan tantangan ekonomi ke depan.
Terkait nilai pasti dari aksi korporasi ini, manajemen masih melakukan perhitungan final sebelum diumumkan secara resmi ke publik.
Direktur keuangan BNBR, Roy Hendrajanto M. Sakti, mengatakan perusahaan menargetkan penggalangan dana hingga Rp 6,5 triliun melalui penerbitan 90 miliar saham baru Seri E.
Mengenai rentang nilai pendanaan yang diharapkan, Roy memberikan gambaran bahwa angka tersebut akan sangat bergantung pada kondisi pasar saat penetapan harga nantinya.
“Target penggalangan dana mungkin berkisar antara Rp 4 triliun hingga Rp 6,5 triliun. Angka pastinya akan ditentukan pada 9 Maret,” kata Roy.
Saham-saham tersebut nantinya akan diterbitkan dari modal disetor perusahaan dan dicantumkan di Bursa Efek Indonesia (IDX) sesuai dengan regulasi yang berlaku.
Direktur Utama dan CEO BNBR, Anindya N. Bakrie, secara terbuka menjelaskan bahwa perolehan dana ini merupakan bagian dari desain besar optimalisasi Struktur pendanaan perusahaan. Fokus utamanya berkaitan erat dengan strategi kepemilikan aset infrastruktur, yakni PT Cimanggis Cibitung Tollways (CCT).
“Perusahaan akan menggunakan seluruh hasil yang diterima dari penerbitan saham baru untuk melunasi kewajiban perusahaan dan/atau anak perusahaannya kepada kreditur, serta untuk modal kerja dan pengembangan bisnis di perusahaan dan/atau anak perusahaannya, termasuk CCT,” kata Anindya setelah Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPS) di Bakrie Tower, Jakarta, Jumat (27/2).
Langkah ini dipandang sangat strategis mengingat sektor jalan tol merupakan aset yang memiliki arus kas stabil dalam jangka panjang. Dengan melunasi utang, beban bunga perusahaan akan menurun, sehingga margin keuntungan di masa depan diharapkan dapat terdongkrak.
Ia menambahkan bahwa publikasi saham baru ini akhirnya berdampak positif pada kinerja keuangan perusahaan, sekaligus memperkuat kinerja operasional dan struktur permodalan.
Melalui penerbitan hak ini, BNBR memproyeksikan adanya perbaikan signifikan pada rasio utang terhadap aset (Debt to Asset Ratio). Sebelum aksi korporasi ini dilakukan, rasio total pinjaman terhadap total aset BNBR berada di angka yang cukup tinggi, yakni 84,28%. Namun, setelah dana hasil penerbitan hak masuk dan digunakan untuk membayar kewajiban, angka tersebut diproyeksikan menciut menjadi 67,9%.
Anindya N. Bakrie menegaskan bahwa penurunan rasio ini bukan sekadar angka di atas kertas, melainkan cerminan dari kemampuan finansial perusahaan yang lebih kuat. “Selain itu, rasio yang lebih rendah memberikan kenyamanan yang lebih besar bagi perusahaan untuk melakukan ekspansi dan memperoleh modal kerja dari pendanaan eksternal tambahan jika diperlukan,” tambahnya.
Tak hanya itu, rasio total pinjaman terhadap total ekuitas (Debt to Equity Ratio) juga mengalami terjun bebas dari 536,02% menjadi hanya 211,57%. Perubahan drastis ini menunjukkan bahwa komposisi modal BNBR akan jauh lebih didominasi oleh ekuitas daripada utang, yang secara teoritis mengurangi profil risiko perusahaan di mata kreditur maupun investor baru.
“Rasio tersebut membaik dengan menyeimbangkan kembali struktur modal perusahaan antara ekuitas dan kewajiban,” katanya.
Meskipun aksi korporasi ini membawa angin segar bagi kesehatan finansial perusahaan, para pemegang saham ritel maupun institusi tetap perlu waspada terhadap efek dilusi. Sebagai konsekuensi dari diterbitkannya 90 miliar saham baru, porsi kepemilikan pemegang saham lama yang tidak menggunakan haknya untuk membeli saham baru akan berkurang secara proporsional.
Namun, Anindya memperingatkan bahwa publikasi saham baru yang direncanakan akan mempengaruhi pemegang saham yang tidak menggunakan hak mereka untuk berlangganan saham baru. Persentase kepemilikan saham dapat terdilusi hingga 33,33% setelah pelaksanaan pengungkapan hak prioritas.
Meski ada potensi yang dilusi, manajemen optimistis bahwa nilai jangka panjang yang dihasilkan dari restrukturisasi utang dan pengembangan unit bisnis seperti CCT akan memberikan hasil yang lebih baik.
“Selain itu, peningkatan modal akan meningkatkan kemampuan perusahaan untuk memperluas bisnisnya, yang pada gilirannya akan berdampak positif pada pendapatan dan diharapkan dapat meningkatkan pengembalian investasi bagi seluruh pemegang saham,” tandasnya. (luq)







