IHSG Berdarah Anjlok ke Level 5.342, Saham TPIA Justru Melesat Lawan Arus Jadi Top Gainers

LINTASBANTEN.COM – Pasar modal Indonesia mengalami tekanan hebat pada perdagangan awal pekan, Senin (8/6/2026). Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencatatkan performa yang cukup mengkhawatirkan dengan terjun bebas ke zona merah.

Namun, di tengah kepanikan pasar yang melanda mayoritas sektor, saham PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) justru tampil sebagai anomali dengan mencatatkan kenaikan harga yang fantastis hingga menempati jajaran puncak top gainers.

Berdasarkan data perdagangan, IHSG terpantau konsisten berada di area negatif sepanjang hari. Indeks komposit ditutup anjlok signifikan sebesar 252,62 poin atau melemah 4,52% ke level 5.342,13.

Pergerakan lesu ini sudah terlihat sejak bel pembukaan pagi hari, di mana indeks langsung dibuka memerah di posisi 5.486,31. Dalam rentang perdagangan harian, IHSG sempat menyentuh titik terendah di 5.317,90, sementara level tertingginya hanya mampu mencapai 5.523,94.

Kondisi pasar yang memburuk ini dipicu oleh aksi jual masif yang dilakukan oleh para investor. Hal ini tercermin dari dominasi saham yang terkoreksi, di mana sebanyak 661 saham mengalami penurunan harga.

Angka ini jauh melampaui jumlah saham yang berhasil menguat maupun yang stagnan, yang masing-masing hanya tercatat sebanyak 78 saham. Aktivitas pasar pun tergolong sangat padat dengan total volume perdagangan mencapai 32,45 miliar saham dan akumulasi nilai transaksi menembus Rp21,46 triliun. Adapun frekuensi perpindahan tangan saham tercatat sebanyak 2,21 juta kali.

Di saat indeks komposit babak belur, perhatian pelaku pasar justru tertuju tajam pada pergerakan saham TPIA. Emiten milik konglomerat Prajogo Pangestu ini menunjukkan performa yang sangat impresif.

Padahal, pada pekan sebelumnya, saham TPIA sempat menjadi bulan-bulanan pasar dengan mencatat penurunan harga signifikan akibat aksi jual masif oleh salah satu pemegang saham strategisnya, SCG Chemicals.

Namun, situasi berbalik 180 derajat pada perdagangan hari ini. Hingga akhir jam perdagangan, saham TPIA tercatat melesat 300 poin atau naik 29,33% ke posisi Rp1.605 per saham. Nilai transaksi saham TPIA pun sangat jumbo, mencapai Rp2,5 triliun, yang menunjukkan besarnya minat beli investor terhadap emiten ini meski pasar secara umum sedang mengalami crash.

Kenaikan tajam ini mengantarkan TPIA masuk ke dalam jajaran top gainers di Bursa Efek Indonesia. TPIA bersanding dengan beberapa saham lain yang juga mencatatkan penguatan signifikan, seperti GRIA yang naik 27,27%, FORU menguat 24,69%, dan ASPR yang mengalami kenaikan sebesar 24,63%.

Melesatnya harga saham TPIA hari ini tidak lepas dari rilis informasi terbaru dari manajemen perusahaan. Hari ini, manajemen TPIA merilis informasi terkini jumlah kepemilikan saham publik atau free float yang melesat menjadi 25% pascapenjualan signifikan oleh SCG Chemicals pada pekan lalu.

Meningkatnya porsi free float ini tampaknya direspons positif oleh pasar sebagai peluang peningkatan likuiditas saham di masa depan. Meskipun sebelumnya terjadi tekanan jual oleh pemegang saham strategis, kepastian mengenai struktur kepemilikan publik yang lebih besar memberikan ruang bagi investor baru untuk masuk, yang kemudian memicu rebound harga secara drastis pada perdagangan Senin ini.

Pemandangan kontras terlihat pada saham-saham blue chip lainnya, terutama dari sektor Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Saham raksasa telekomunikasi, PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM), justru menjadi beban bagi indeks setelah mencatat penurunan dalam. Harga saham TLKM tercatat melorot 14,86% atau terpangkas 410 poin menjadi Rp2.350 per saham.

Penurunan tajam ini membuat TLKM masuk ke urutan teratas jajaran top losers perdagangan hari ini. Tidak sendirian, tekanan juga dialami oleh saham IMPC yang turun 14,71%, serta saham RAJA yang merosot hingga 10,20%.

Secara keseluruhan, perdagangan awal pekan ini menjadi momen yang sangat volatil bagi para investor di Indonesia. Anjloknya IHSG hingga lebih dari 4 persen menjadi sinyal waspada bagi pelaku pasar, namun performa TPIA memberikan sedikit angin segar sekaligus menunjukkan bahwa peluang investasi masih tetap ada di tengah sentimen negatif makro yang sedang berlangsung.

Investor kini cenderung lebih selektif dan memperhatikan rilis data fundamental serta aksi korporasi terbaru dari masing-masing emiten untuk menentukan langkah di tengah ketidakpastian pasar. (luq)