LINTASBANTEN.COM – Pasar modal Indonesia kembali didukung oleh pergerakan signifikan dari pemegang saham utama di sektor properti. Investor kawakan yang memegang porsi di atas 5 persen pada PT Perdana Gapuraprima Tbk. (GPRA), Aditya Antonius, terpantau melakukan aksi penjualan secara berturut-turut dalam jumlah yang cukup fantastis.
Langkah divestasi ini menjadi sorotan para pelaku pasar dan investor ritel yang mencermati gerak-gerik saham emiten pengembang properti tersebut.
Berdasarkan data keterbukaan informasi dari laporan transaksi di atas 5 persen Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI), aksi pelepasan kepemilikan ini dilakukan dalam dua tahap transaksi yang berlangsung pada tanggal 23 dan 24 Februari 2026.
Fenomena ini menarik perhatian karena dilakukan secara “senyap” namun memiliki dampak langsung terhadap struktur kepemilikan saham di dalam perusahaan.
Aksi penjualan pertama dimulai pada Senin, 23 Februari 2026. Dalam laporan resmi KSEI, Aditya Antonius menghabiskan sebanyak 5.000.000 lembar saham GPRA. Jumlah ini setara dengan 0,12 persen dari total kepemilikan sahamnya di perusahaan tersebut. Dalam melancarkan pesanan jual ini, Aditya menggunakan jasa broker BRI Danareksa Sekuritas dengan kode broker OD.
Jika merujuk pada harga penutupan perdagangan pada hari tersebut yang berada di level Rp120 per saham, maka nilai transaksi divestasi tahap pertama ini diperkirakan mencapai Rp600 juta.
Akibat transaksi ini, porsi kepemilikan Aditya Antonius di GPRA menyusut dari yang semula 297.343.800 saham atau 6,95 persen, menjadi 292.343.800 saham atau setara dengan 6,84 persen.
Bukannya mereda, aksi jual justru semakin masif pada hari berikutnya. Pada Selasa, 24 Februari 2026, Aditya kembali menggelontorkan saham GPRA ke pasar dengan volume yang lebih besar.
Tidak tanggung-tanggung, sebanyak 14.500.000 lembar saham atau sekitar 0,34 persen kepemilikan dilepas dalam satu waktu.
Dengan mengacu pada harga penutupan pasar saat transaksi kedua dilakukan, yakni di level Rp117 per saham, nilai penjualan pada tahap kedua ini diperkirakan menembus angka Rp1,69 miliar. Penurunan harga saham dari Rp120 ke Rp117 dalam kurun waktu satu hari ini menjadi catatan penting bagi para pengamat teknikal saham.
Pasca transaksi kedua ini, porsi kepemilikan Aditya Antonius di PT Perdana Gapuraprima Tbk. tercatat mencatat menjadi 277.843.800 lembar saham atau kini hanya tersisa 6,50 persen.
Jika dikalkulasikan secara total, dalam periode dua hari perdagangan tersebut, Aditya Antonius telah menghabiskan sebanyak 19.500.000 lembar saham GPRA. Secara keseluruhan, estimasi nilai dana yang diraup dari aksi divestasi ini mencapai sekitar Rp2,29 miliar.
Perubahan porsi kepemilikan dari 6,95 persen menjadi 6,50 persen menunjukkan adanya penyesuaian portofolio dari para investor besar tersebut di tengah dinamika industri properti.
Data perdagangan terbaru menunjukkan bahwa pada penutupan perdagangan Kamis, 26 Februari 2026, saham GPRA masih tertahan di level Rp117 per saham.
Harga ini stagnan jika dibandingkan dengan harga penutupan pada saat transaksi kedua Aditya dilakukan, yang menandakan pasar masih mencoba mencerna dampak dari aksi penjualan beruntun tersebut.
Meskipun kepemilikan Aditya Antonius masih berada di atas ambang batas 5 persen yang mewajibkan setiap perubahannya dilaporkan kepada publik melalui KSEI, pengurangan porsi yang mencapai 19,5 juta saham ini tetap menjadi indikator penting dalam melihat likuiditas dan kepercayaan pasar terhadap emiten GPRA pada periode tersebut.(luq)











